Senin, 06 Januari 2014

Kesantunan Geoffrey Leech

Teori Prinsip Kesantunan Geoffrey Leech

A.    Pendahuluan
1.      Latar Belakang
Pragmatik merupakan subdisiplin dari ilmu linguistik yang tumbuh dan berkembang. Pragmatik yaitu ilmu bahasa yang mempelajari kondisi penggunaan bahasa manusia yang pada dasarnya sangat ditentukan oleh konteks yang melatarbelakangi bahasa itu. Menurut Thomas pragmatik mempunyai hubungan dengan sosiolinguistik, pragmatik menompang sosiolinguistik yang memanfaatkan deskripsi sosiolinguistik dan menjelaskan pada interaksi tertentu penutur memilih khazanah linguistiknya suatu bentuk bahasa.[1]
Dalam pragmatik mempunyai teori kesantunanan dalam berkomunikasi dengan antar sesama manusia. Kesantunan ini dibutuhkan karena terdapat status sosial, perbedaan umur, jenjang ataupun latar belakang hidup seseorang agar terjadi suatu kesantunan yang baik antar sesama.
Dalam tulisan ini akan membahas teori kesantunan beebahasa yang terdapat beberapa prinsip kesantunan menurut Geoffrey Leech yaitu yang terdiri dari enam macam maxim dalam prinsip kesantuanan, enam maksim tersebut yaitu: bidal kebijaksanaan, bidal penerimaan, bidal kemurahan, bidal kerendahan hati, bidal kecocokan, bidal kesimpatian, dan yang diungkapkan oleh Gunawan terdapat satu bidal lagi yaitu bidal pertimbangan.

2.      Tujuan Penulisan
Untuk menjelaskan pengertian tentang teori kesantunan yang terkait dengan teori prinsip kesantunan Geoffrey Leech.


B.     Pembahasan
1.      Teori Kesantunan
Kata kesantunan dapat diartikan secara berbeda-beda tergantung pada persepsi dari penerjemah itu sendiri. Misalnya, dalam kamus besar bahasa Indonesia kata kesantunan yang memiliki kata dasar santun  artinya adalah halus dan baik (budi bahasanya, tingkah lakunya); sabar dan tenang; sopan.[2]  kesantunan merupakan hubungan antara pembicara dan pendengar saat berkomunikasi. Kesantunana seseorang dinilai dari tata cara bicara, gesture tubuh dan tutur berucap seseorang tersebut. hal ini juga berkaitan dengan aturan perilaku dan etika seseorang dalam berkomunikasi sehari-hari dan harus dipatuhi karena telah menjadi suatu aturan yang disepakati oleh masyarakat. Kesantunan seseorang akan dihargai apabila ia dapat menempatkan bahasa lisan dan bahasa tubuhnya dengan baik.
Teori kesantunan berbahasa menurut Brown dan Levinson berkisaran atas notasi muka (face) dibagi menjadi dua yaitu muka negatif dan muka positif.[3] Teknik dasar seorang penutur yaitu menghitung derajat keterancaman sebuah tindak ujaran dalam berkomunikasi banyak ditentukan oleh umur, latar belakang sosial, jenis kelamin ataupun jarak sosial yang ditimbulkan oleh lingkungan sekitar.
Menurut Leech kesantunan yaitu menyangkut hubungan antara peserta komunikasi, yaitu penutur dan pendengar. Maka penutur menggunakan kalimat dalam tuturannya dengan santun tanpa harus menyinggung pendengar. Leech mengusulkan untuk melengkapi prinsip koperasi Grice dengan prinsip kesopanan. Prinsip kesopanan setidaknya terdiri dari enam maksim, seperti bidal kebijaksanaan, bidal penerimaan, bidal kemurahan, bidal kerendahan hati, bidal kecocokan, bidal kesimpatian,[4] dan yang diungkapkan oleh Gunawan terdapat satu bidal lagi yaitu bidal pertimbangan.

2.      Teori Prinsip Kesantunan Geoffrey Leech
Dalam prinsip kesantunan Leech erdiri dari enam maksim yaitu:
1.      Maksim Kearifan (Tact Maxim)
Buatlah kerugian orang lain sekecil mungkin.
Buatlah keuntungan orang lain sebesar mungkin.
Maksud dari maksim diatas yaitu selalu mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam kegiatan bertutur. Contohnya:
     Ibu       : “Ayo dimakan bakminya! Di dalam masih banyak, kok.”
Rekan Ibu : “ Wah, segar sekali. Siapa yang memasak ini, Bu?”
Informasi Indeksal:
Dituturkan oleh seorang ibu kepada teman dekatnya pada saat ia berkunjung ke rumahnya.
Tuturan yang disampaikan dengan maksud agar sang tamu merasa bebas dan dengan senang hati menikmati hidangan yang disajikan tanpa ada perasaan tidak enak sekalipun.
2.      Maksim Kedermawanan (Generosity Maxim)
Buatlah keuntungan diri sendiri sekecil mungkin.
Buatlah kerugian diri sendiri sebesar mungkin.
Maksud dari maksim diatas yaitu agar peserta tutur dapat menghormati orang lain. Contohnya:
Kakak : “Dik, Indosiar filmnya bagus loh, sekarang!”
Adik : “Sebentar, Mas. Saya hidupkan dulu saluran listriknya”
Informasi Indeksal:
Dituturkan oleh seorang kakak kepada adiknya pada sebuah  keluarga, mereka sedang berbincang tentang acara tertentu pada sebuah saluran televisi swasta.
Tuturan yang disampaikan yaitu si adik menghormati kakaknya dengan langsung menyalakan saluran listrik.
3.      Maksim Pujian (Approbation Maxim)
Kecamlah orang lain sesedikit mungkin.
Pujilah orang lain sebanyak mungkin.
Maksud dari maksim diatas adalah agar para peserta pertuturan tidak saling mengejek, saling mencaci, atau saling merendahkan pihak yang lain. Contohnya, tuturan Andi saat mendengar Susi yang dapat berbahasa Jepang dan Inggris.
“Susi memang tak hanya pandai berbahasa Inggris tetapi juga pandai berbahasa Jepang.”
Dari tuturan diatas sangat jelas bahwa Andi memberikan pujian kepada Susi yang dapat berbahasa Inggris dan berbahasa Jepang.
4.      Maksim Kerendahan Hati (Modesty Maxim)
Pujilah diri sendiri sesedikit mungkin.
Kecamlah diri sendiri sebanyak mungkin.
Maksud dari maksim diatas yaitu agar para peserta pertuturan dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri. Contohnya:
“Kapan-kapan main Pak ke rumah saya, tetapi rumah saya jelak seperti gubuk”
Dari tuturan diatas dijelaskan bahwa dia mempunyai rumah yang dengan kesederhanaan dan kerendahan hati banyak digunakan sebagai parameter penilaian kesantunan seseorang.
5.      Maksim Kesepakatan (Agreement Maxim)
Usahakan ketaksepakatan antara diri dan lain terjadi sedikit mungkin.
Usahakan kesepakatan antara diri dan lain terjadi sebanyak mungkin.
Maksud dari maksim diatas yaitu agar para peserta tutur dapat saling membina kecocokan atau kesepakatan di dalam kegiatan bertutur. Contohnya:
Hani : “Nanti malam kita makan bersama ya, Tar!”
Tary : “Boleh. Saya tunggu di Bambu Resto ya.”
Dari tuturan diatas bahwa antara Hani dan Tary terjadi kesepakatan untuk makan bersama nanti malam.
6.      Maksim Simpati (Sympathy Maxim)
Kurangilah rasa antipati antara diri dengan lain sekecil mungkin.
Tingkatkan rasa simpati sebanyak-banyaknya antara diri dan lain.[5]
Maksud dari maksim diatas yaitu agar para peserta tutur dapat memaksimalkan sikap simpati antara pihak yang satu dengan pihak lainnya. Contohnya:
Ani : “Sus, nenekku meninggal.”
Susi : “Innalillahiwainnailaihi rojiun. Ikut berduka cita.”
Dari tuturan merupakan ucapan simpati dari penutur kepada salah satu temannya yang gagal ujian.
7.      Maksim Pertimbangan (Consideration Maxim)
Minimalkan rasa tidak senang penutur.
Maksimalkan rasa senang penutur.[6]
Maksud dari maksim diatas yaitu untuk mempertimbangkan perasaan penutur, jangan sampai ia merasa lebih tidak senang dalam suasana yang tidak menyenangkan.
“Selamat atas kemenangan Anda pada lomba yang diikuti oleh artis-artis yang hebat-hebat itu.”
Tuturan diatas terdengar lebih santun dari pada hanya “Selamat atas kemenangan anda”.

C.    Simpulan
Pragmatik merupakan subdisiplin dari ilmu linguistik yang berarti ilmu bahasa yang mempelajari kondisi penggunaan bahasa manusia yang pada dasarnya sangat ditentukan oleh konteks yang melatarbelakangi bahasa itu.
Prinsip kesantunan menurut Geoffrey Leech yaitu yang terdiri dari enam macam maxim dalam prinsip kesantuanan yaitu: (1) bidal kebijaksanaan yaitu mengurangi keuntungan dirinya sendiri dan memaksimalkan keuntungan pihak lain dalam kegiatan bertutur, (2) bidal penerimaan yaitu peserta pertuturan tidak saling mengejek, saling mencaci, atau saling merendahkan pihak yang lain, (3) bidal kemurahan yaitu peserta tutur dapat menghormati orang lain, (4) bidal kerendahan hati yaitu peserta pertuturan dapat bersikap rendah hati dengan cara mengurangi pujian terhadap dirinya sendiri, (5) bidal kecocokan yaitu peserta tutur dapat saling membina kecocokan atau kesepakatan di dalam kegiatan bertutur, (6) bidal kesimpatian yaitu peserta tutur dapat memaksimalkan sikap simpati antara pihak yang satu dengan pihak lainnya, (7)  bidal pertimbangan yaitu untuk mempertimbangkan perasaan penutur, jangan sampai ia merasa lebih tidak senang dalam suasana yang tidak menyenangkan.



[1] Asim Gunawan. Pragmatik  Teori dan Kajian Nusantara. (Jakarta: Atma Jaya, 2007). Hlm. 52
[2] Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia .(Jakarta: Balai Pustaka, 2003).  Hlm.  997
[3] Asim Gunawan. Pragmatik  Teori dan Kajian Nusantara. (Jakarta: Atma Jaya, 2007). Hlm. 189
[4] K.M Jaszczolt. Semantics and Pragmatics. (London: Person Education, 2006).Hlm, 314
[5] Geoffrey Leech. Prinsip-prinsip Pragmatik. (Jakarta: UI-Press, 2011). Hlm, 206-207
[6] Asim Gunawan. Pragmatik  Teori dan Kajian Nusantara. (Jakarta: Atma Jaya, 2007). Hlm. 166

Senin, 16 Desember 2013

Makna Ciuman

Tahukah anda, ciuman itu memiliki fungsi tempat dan waktu loh .. mungkin anda tak pernah perduli dengan makna sebuah ciuman. Ketika bertemu seseorang, anda kemudian mencium tangannya. Ciuman di tangan itu sesungguhnya memiliki makna. Anda atau pasangan anda juga memiliki bahasa cinta sendiri. Mau tahu makna dari sebuah ciuman?? Berikut ini sejumlah makna ciuman dan bahasa tubuh. Tapi sebenernya sih anda sendiri yang paling tahu  karena andalah yang mengalaminya.

1)      Ciuman di tangan : persahabatan atau penghormatan
2)      Ciuman di hidung : “aduh kamu lucu”
3)      Ciuman di pipi : “aku membutuhkan mu”
4)      Ciuman di kening : kasih sayang
5)      Ciuman di leher : “aku menginginkanmu”
6)      Ciuman di bibir : “aku cinta pada mu”
7)      Ciuman dengan mata tertutup ; aku sungguh jatuh cinta pada mu”
8)      Ciuman dengan mata terbuka : aku lihat kemana tanganmu bergerak....”
9)      Mencuri ciuman adalah yang paling manis. Anda pasti ingin mengulanginya.

Sekarang arti dari Ucapan dan Bahasa Tubuh:
1)      “aku selalu memikirkanmu” : aku sayang padamu
2)      Menggengam tangan : aku suka kamu
3)      Menatap mata : apa kau cinta padaku?
4)      Meremas jari : aku ingin menciummu
5)      Merebahkan kepala di pundak : lindungi aku
6)      Memeluk erat : aku rindu kamu
7)      Menggigit bibir : aku cemburu
8)      Mengkedipkan mata : aku ingin pergi dengan mu
9)      Memainkan anak rambut : aku memujamu
10)  Menginjak kaki : aku benci kamu
11)  Memukul tempat yang paling menyakitkan : aku benar-benar benci kamu
12)  “aku memimpikanmu” : kau orang yang spesial
13)  “aku selalu ingin bersamamu” : aku tak bisa hidup tanpamu
14)  Memakai cincin : kau milikku selamanya
15)  Selalu memberimu sesuatu : aku amat sayang padamu
16)  Meletakkan tangan di pundak : Mundur Bodoh !!


Selasa, 26 November 2013

Jumat, 05 Juli 2013

Kepercayaan dalam Keikhlasan


Cerpen Sebuah Kecelakaan Suci adalah salah satu karya dari Gunawan Tri Atmodjo. Cerpen ini menceritakan tentang sebuah desa yang dahulu makmur dan sejahtera menjadi desa yang penuh dengan bencana dari pertenakkan hingga pertanian yang hancur. Dengan adanya musibah tersebut maka sesepuh di desa itu berembug untuk memberikan persembahan di gua yang sulit dijangkau dari sisi Gunung tersebut. Namun setelah ritual dijalankan untuk memberikan daging dan sayuran, berkali-kali persembahan daginglah yang selalu habis sedangkan sayuran masih utuh. Hingga warga desa mempertanyakan keikhlasan dalam berkorban. Untuk mendapatkan cinta, ada seseorang yang memberanikan diri untuk bertapa diantara kedua batu persembahan di gua tersebut. Namun disela-sela ia untuk berkonsentrasi, ia mendengar suara langkah, suara auman dan suara makan dengan terkejutnya seekor harimau sedang memakan daging persembahan yang ada dibatu tersebut.
Gunawan Tri Atmodjo adalah seorang penulis yang dapat dibilang cukup produktif dalam menghasilkan sebuah karya terbukti dalam beberapa  kali ia menjadi juara di antaranya Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Tuk Padas Publishing 2011, Juara 2 Lomba Menulis Cerpen Solopos 2011, Juara 3 Lomba Menulis Cerpen Femina 2010, Cerpen Terbaik Majalah Horison 2004, Pemenang II Lomba Tulis Puisi Kemanusiaan Komunitas Sastra Indonesia 2008, dan lain-lain. Pria kelahiran Solo, 1 Mei 1982 ini kegiatan sehari-harinya bekerja sebagai editor buku pelajaran. Gunawan Tri Atmodjo yang menjadi alumnus Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS Surakarta program studi Sastra Indonesia juga pernah diundang dalam berbagai gelaran sastra tingkat nasional, seperti baca cerpen dalam Temu Sastrawan Indonesia 4 di Ternate, Maluku Utara, tahun 2011, dan baca puisi di Pertemuan Penyair Nusantara VI, Jambi, tahun 2012.[1]
Karya sastra tidak lahir begitu saja. Karya sastra lahir dari hasil kreativitas, realitas dan imajinasi pengarang. Dengan imajinasinya pengarang dapat mewujudkan kembali sederetan pengalaman-pengalaman tertentu yang pernah akrab dengan lingkungan dan kehidupannya.[2] Maka karya sastra diciptakan oleh pengarang sebagai hasil dari sebuah proses merespons situasi lingkungan dan sosialnya. Oleh karena itu, karya sastra akan mampu mengidentifikasikan  peristiwa-peristiwa sosial yang penting pada zamannya sehingga bisa mencapai ekspresi yang padu dengan realita. Dalam hal ini pendekatan yang dipakai adalah pendekatan objektif adalah pendekatan yang menitikberatkan kajiannya pada karya sastra.[3] Jadi karya sastranya menjadi inti dalam pendekatan objektif yang akan diteliti dengan struktur karya sastra yang kompleks dan multidimensional
Cerpen ini terispirasi dari cerita anak Nabi Adam yang bernama Habil dan Qabil. Dimana Qabil tidak terima dengan keputusan ayahnya yang akan dinikahkan dengan Lubuda yang jelak yaitu adik dari Habil sedangkan Habil akan dinikahkan dengan Iqlima adik Qabil yang cantik jelita. Dengan itu ayahnya menyuruh untuk memberikan korban kepada Tuhan, Habil memberikan kambing yang bagus dan yang ia rawat sedangkan Qabil memberikan sayuran yang busuk dan rusak. Keesokannya kambing Habil-lah yang telah diterima korbannya karena ia berkorban dengan tulus dan ikhlas.[4] Disini terdapat persamaan dengan cerpen Sebuah Kecelakaan Suci karya Gunawan, namun yang membedakan korban yang dipersembahkan adalah untuk makhluk gaib untuk membuang bencana di desanya dan persembahan daging yang diberikan untuk penguasa Gunung melainkan seekor harimau yang selalu datang ke gua tersebut untuk mencari makan dan memakan daging persembahan.
Realita yang coba diungkap oleh Gunawan adalah ritual yang banyak terjadi di Indonesia. Masaih banyaknya masyarakat yang mempercayai hal gaib dan melakukan ritual dimalam hari untuk mendapatkan keuntungan, jodoh, dan hal-hal yang kita inginkan akan terkabul. Misalnya saja ada tempat pesugihan di Gunung Kawi, Malang Jawa Timur. Di Gunung tersebut sudah banyak yang mengunakan pesugihan mengharapkan permintaannya akan terkabul. Hingga seorang juru kunci Gunung tersebut memberikan dua pilihan aternatif yaitu datang langsung dan jarak jauh.[5] Dengan di adakannya dua pilihan alternatif maka seseorang dapat berbuat musyrik meski tidak datang ke Gunung tersebut. Hal ini sama dalam cerpen ketika Suman ingin mendapatkan Farida dan ia memberanikan diri untuk bertapa di Gunung yang di anggap kramat. Ia bertapa diantara persembahan yang diberikan penduduk desa untuk penguasa Gunung, menurut bisikan dalam mimpi Suman ia akan mendapatkan cintanya Farida dengan bertapa di Gunung itu.
Penokohan yang terdapat pada cerpen Sebuah Kecelakaan Suci yaitu Maun dan Tanu orang yang memberikan persembahan sayuran namun selalu kecewa karena persembahan sayuran ditolak hingga selalu layu dan membusuk. Salim dan Seto adalah orang yang memberikan persembahan daging dan selalu diterima persembahan dagingnya hingga tidak ada sisanya. Mbah Rekso adalah seorang sesepuh yang dipercaya di desa tersebut. Suman adalah anak dari Tanu yang memberanikan diri untuk bertapa di tempat kramat agar mendapatkan kesaktian untuk meluluhkan hati Farida anak dari Seto yang ia cintai. Alur yang diceritakan adalah alur maju yaitu menceritakan dari awal pertama ritual itu diadakan karena untuk mengatasi bencana yang terdapat pada desa tersebu hingga persembahan ketujuh kemudian tumbuhlah Suman dan Farida anak dari Tanu dan Seto hingga Suman melakukan berbagai cara untuk membuat Farida mencintainya sehingga ia bertapa di gunung tempat memberikan persembahan tersebut.
Segi menarik yang terdapat pada cerpen Sebuah Kecelakaan Suci yaitu terdapat pada ceritanya yang percaya pada takhayul yang menjadikan Gunung tersebut membawa kesejahteraan dan keselamatan bagi desanya dari musibah yang dialami mereka seperti banyak ternak yang mati tanpa sebab dan panen yang tiba-tiba diserang wereng. Setelah memberikan persembahan untuk penguasa Gunung tersebut desa itu seakan terhindar dari musibah sehingga para penduduk mempercayai adanya penguasa Gunung tersebut. Kemudian segi menarik lainnya terjadi pada saat persembahan daging yang diberikan selalu habis sedangkan sayuran tidak, sehingga pembaca bertanya-tanya apa yang terjadi namun pada halaman akhir cerita, Gunawan memberitahukan bahwa daging persembahan tersebut dimakan oleh penguasa  Gunung yaitu seekor harimau, maka dari itu sayuran tetap ada hingga layu.
Kelamahan pada cerpen ini terdapat pada akhir ceritanya yaitu ketika Suman melihat seekor harimau yang sedang mendekatinya. Kemudian Suman mengucapkan doa pendek yaitu ia ingin berubah wujud menjadi sayuran seperti yang tertata di batu belakang karena harimau tidak memakan sayuran kemudian Suman jatuh pingsan. Disini membuat pembaca binggung dan hendak mencari tahu kelanjutan dari isi cerpen tersebut, karena Gunawan menceritakan cerpen Sebuah Kecelakaan Suci seperti tidak ada akhir dari ceritanya. Ketika Suman jatuh pingsan tidak ada narasi yang melanjutkan cerita tersebut, bisa saja ketika Suman jatuh pingsan kemudian ia diterkam harimau dan bisa saja ia masih dalam keadaan hidup. Disinilah kelemahan dari cerpen Sebuah Kecelakaan Suci membuat para pembaca menerka-nerka cerita yang terjadi selanjutnya.
Tema yang terdapat pada cerpen Sebuah Kecelakaan Suci adalah kepercayaan pada hal gaib dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dan keikhlasan dalam memberikan sesuatu. Hal ini tergambar jelas pada Suman yang ingin mendapatkan cinta Farida, kemudian pada para penduduk setelah memberikan persembahan daging dan sayuran desa yang penuh dengan bencana itu kembali seperti semula menjadi desa yang sejahtera dan makmur.
Pesan yang dapat kita ambil dalam cerpen Sebuah Kecelakaan Suci adalah seseorang boleh mempercayai adanya alam gaib namun tidak untuk di mintai pertolongan dan untuk meminta sesuatu yang kita inginkan karena untuk meminta sesuatu yang kita inginkan hanyalah dengan beriktiar dan berdoa serta berusaha niscaya Allah akan mengabulkannya. Kemudian untuk mengukur keikhlasan seseorang bukan dari hal yang gaib tetapi dari niat dan ketulusan yang murni dalam memberi sesuatu. Hal ini terjadi pada Seto yang tidak mempercayai hal gaib dan menganggapnya takhayul hingga ia memberikan kambing yang sedang sakit untuk dijadikan persembahan sedangkan Tanu memberikan sayuran yang terbaik dari kebunnya dan ia juga menjalankan puasa untuk membersihkan hatinya dari segala pamrih. Namun yang terjadi keikhlasan dari seorang Tanu-lah yang di pertanyakan oleh para penduduk, sedangkan Seto mendapatkan nilai keikhlasan dari kecurangannya tersebut.



Daftar Pustaka
Majalah sastra Horison April 2013.
Siswanto, Wahyudi.  Pengantar Teori Sastra. Jakarta: PT Grasindo. 2008.
Wellek & Austin Warren, Rene. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 1993.
http://g-kawi.blogspot.com/p/pesugihan-gunung-kawi.html. Diunduh pada 19 Juni 2013.
http://harmonimy.org/arkib/kisahnabi/index.htm#page=kisahhabildanqabilputeranabiadamas.htm. Diunduh pada 19 Juni 2013.



[1] Majalah sastra Horison April 2013
[2] Rene Wellek & Austin Warren, Teori Kesusastraan, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993),  h. 3
[3] Wahyudi Siswanto, Pengantar Teori Sastra, (Jakarta: PT Grasindo, 2008), hlm.183.
[4] http://harmoni-my.org/arkib/kisahnabi/index.htm#page=kisahhabildanqabilputeranabiadamas.htm, diunduh pada 19 Juni 2013
[5] http://g-kawi.blogspot.com/p/pesugihan-gunung-kawi.html, diunduh pada 19 Juni 2013.

Selasa, 02 Juli 2013

Terima Kasih Guruku

Akhirnya ngeshare juga tulisan ini , hehehee ..
Udah dari 2 minggu yang lalu mau share tapi rasanya ada yang kurang deh , dan sekarang kita mulai berbagi lagi ya

Yang kita omongin kali ini tentang GURU, ya GURU siapa sih yang ge punya sosok seorang guru didunia ini? Sekalipun ia masih bayi, sosok seorang guru adalah orang tua , karena ia membantu apa yang diperlukan dan menjadi panutan. Demikian dengan guru yang ada di sekolah, iya itu guru kalo menurut gue ya tahan banting ya. Meski anak didiknya nakal, bandel, ga nurut tapi apa yang bisa dilakukan guru? Marah ya hanya sekedar marah ga lebih tapi nanti baik lagi ama kita :) guru itu ibarat seseorang yang ga minta apa-apa, yang ia minta cuma agar anak didiknya pintar, cerdas dan menangkap semua pelajaran dengan baik. Hebat ya guru :) tanpa dia kita ga bisa apa-apa loh. Inget juga sob, ga ada sejarahnya MANTAN GURU tapi semua guru kita mulai dari TK sampai SARJANA !!

 :) semoga bermanfaat :)

Terima Kasih Guruku

Pagiku cerahku
Matahari bersinar…
Ku gendong tas merahku di pundak…
Slamat pagi semua

Ku nantikan dirimu
Di depan kelasku menantikan kami..
Guruku tersayang
Guru tercinta

Tanpamu apa jadinya aku…
Tak bisa baca tulis
Mengerti banyak hal..
Guruku terima kasihku…

Nakalnya diriku kadang buatmu marah…
Namun segala maaf kau berikan..

Reff:
Guruku tersayang …
Guru tercinta tanpamu apa jadinya aku…
Tak bisa baca tulis mengerti banyak hal…
Guruku terima kasihku…