Senin, 07 April 2014
Senin, 06 Januari 2014
Lakon BLACKBERRY
Lakon
BLACKBERRY
Rifqi
Faizah
Sinopsis Drama Blackberry
Seorang
anak sekolah yang bernama Andina ingin memiliki handphone Blackberry seperti
teman-temannya namun dengan hasutan teman-temannya ia berani membohongi kedua
orang tuanya dengan alasan sakit dan berharap akan dibelikan handphone
Blackberry, namun ketika ayahnya akan memanggil dokter untuk menyuntik Andina seketika
Andina beranjak bangkit dari tempat tidur seolah sehat kembali. Kemudian sang
ayah menanyakan kenapa Andina perempuaannya berbohong kepadanya, lalu sang Andina
bercerita ingin dibelikan handphone Blackberry dan alasan yang kurang
meyakinkan ayahnya. Kemudian ayah pun memberikan syarat bila ingin dibelikan
Blackberry, sang Andina harus mendapatkan peringkat pertama dikelasnya. Hal ini
diberikan ayah karena supaya sang Andina mengetahui bagaimana caranya bekerja
keras untuk mendapatkan sesuatu, jika ayah memberikan sesuatu dengan gampang
maka Andina pun akan cepat putus asa maka sang ayah ingin agar Andina memilih
demi masa depannya.
Dramatic Personal
Andina : Anak yang
ingin dibelikan Blackberry
Ayah : Ayah dari Andina
Ibu : Ibu dari Andina
Keisha : Teman Andina yang
sudah memiliki Blackberry
Kristy : Teman Andina
Tiana : Teman Andina
Lika : Teman Andina
Sanya : Teman Andina
BABAK I
Di
suatu pagi yang cerah, dirumah seorang pelajar yang bernama Andina, sedang
terdapat percakapan antara Ayah dan Ibu yang sedang sarapan.
IBU
(sambil menyiapkan makanan)
Andina makan dulu sini, sarapan. Kamu
kan belum makan.
ANDINA (sedang memakai sepatu sekolah)
Iya bu, nanti aja disekolah. Dina belum
lapar untuk sekarang. (langsung mencium
tangan ibu)
AYAH (binggung)
Kok ayah tidak kamu cium? Dina!! Dina!! (dengan nada keras kepada Andina yang sudah
beranjak pergi dari rumah)
ANDINA
(sambil berjalan keluar)
Maaf ya yah, Dina ga maksud buat
nyinggung perasaan ayah. Tapi dina mau ayah tau kalo Dina mau kayak
temen-temen. (berbicara sendiri)
Ketika
dirumah Ayah yang sedang sarapan, bertanya kepada Ibu. Tentang sikap Andina
kepadanya.
AYAH (sambil menyuap makanan)
Bu, itu tadi Andina kenapa sih kok beda
dari biasanya? Dari kemarin Ayah pulang kerja dia seolah menghindar dari Ayah.
IBU
Hmm .. Ibu juga kurang tau yah
kenapanya, mungkin ada masalah disekolahnya. Nanti coba Ibu tanya ada apa.
Kemaren juga Andina pulangnya agak telat yah dari biasanya.
AYAH
Yasudah nanti pas Andina pulang sekolah
coba Ibu dekati dia ya bu. Ayah berangkat dulu bu. Assalammualaikum .. (sambil beranjak dari meja makan dan keluar
untuk bekerja)
IBU
Waalaikum salam .. hati-hati yah. (kemudian Ibu membersihkan meja makan)
LAMPU GELAP
BABAK II
Ketika
Andina sudah sampai disekolah, dengan tampang yang muram ia menuju kelas dan
duduk dibangkunya.
KEISHA (mengagetkan Andina)
Woi, Din lo kenapa muka dilipet jadi
tujuh begitu? (sambil memperhatikan wajah
Andina)
ANDINA
Gapapa kok, Cuma lagi males aja. Masih
ngantuk (pura-pura menguap)
KEISHA
Ooh begitu.. Oiya Din, udah berhasil belom
ngerayu bokap lo?? (sambil mengeluarkan
handphone Blackberry didepan Andina)
SANYA
Iya Din udah berhasil belum?? Kan kalo
lo udah beli kita bisa BBM-an. (sambil
mengetik pesan di handphone-nya)
ANDINA
GAGAL!! (dengan nada kesal)
LIKA
Gagal kenaa Din?? Mumpung ada diskon
gede-gedean Din, gue aja kemaren dapet diskon 50% loh. Ini Blackberry keluaran
terbaru pula (sambil mengeluarkan
handphone dari kantong saku bajunya). Hoki pokoknya gue (sambil tertawa kecil)
ANDINA
Hahaha .. (tertawa sinis)
TIANA
Yaaaa, lo kurang jitu kalee ngerayunya?
Padahal setau gue, yang namanya bokap itu paling nggak tegaan sama anak
perempuannya (bertanya heran)
ANDINA
Ah, bokap gue emang aneh gitu (berkata dengan lesu)
KEISHA
Yang lain udah pada punya semua lho.
Kristy, Tiana, Lika, Sanya dan gue. Elo nggak malu apa? Hehehe…. (sambil
manas-manasin Andina)
ANDINA
Iya, sabar napa! (menghela nafas)
KEISHA
Kelamaan sabar malah nanti kehilangan BB,
tau? Diskonnya tinggal dua hari lagi. Rugi abis deh lo! (sambil meyakinkan agar Andina segera membeli)
ANDINA
Iya, iyaaaa gue juga tau. Entar gue
usahain lagi. Emangnya beli dimana, kalo bokap gue nanya jadi bisa langsung gue
jawab.
LIKA
(menjelaskan)
Di Thamrin City Din, disitu lagi buka
stand gitu sih Blackberrynya.
ANDINA
Ooh gitu.. entar gue langsung minta
beliin aja deh. Sabar ya sahabat-sahabatku tersayang (sambil memeluk Keisha, Kristy, Tiana, Lika, Sanya)
KRISTY
Oke.. kita tunggu loh PIN BBM lo. Good
Luck ya! (sambil menepuk bahu Andina)
LAMPU GELAP
BABAK III
Sepanjang perjalanan pulang sekolah, Andina terus
berpikir keras mencari cara untuk membujuk Ayahnya. Kira-kira, apa ya yang bisa
bikin hati Ayahnya luluh.
ANDINA (sambil berfikir)
Pake siasat ngambek, udah terbukti nggak
ampuh. Atau mogok sekolah? Ah, yang ini sih gue nggak berani. Nanti bukannya Ayah luluh,
malahan marah besar. (Andina yang
berbicara pada diri sendiri)
Kemudian Andina tersenyum lebar ketika ide itu melintas di benaknya.
ANDINA (sambil mengepal
tangannya serasa menunjukan kesenangan)
Yesss!! Yang ini pasti berhasil! (sambil tersenyum-senyum sendiri)
Ketika
malam harinya, kamar tidur Andina sengaja dimatikan mesin pendinginnya, sementara dia berbaring
di bawah selimut tebal. Keringat mulai mengucur, tapi Andina mencoba bertahan.
Sesekali dia sengaja menaikkan intonasi suaranya yang dibikin serak dan
batuk-batuk agar terdengar sampai ke ruang makan. Ayah dan ibunya terdengar
bercakap-cakap seraya berjalan ke arah kamar Andina. Bunyi pintu kamar dibuka
perlahan.
IBU (dengan wajah cemas)
IBU (dengan wajah cemas)
“Dina, kamu sakit?” (tangan ibu meraba keningnya)
ANDINA
Iya, Ma… Uhuk… uhuk….
Dina nggak enak badan nih… (berlagak
pucat pasi)
AYAH
(sambil membungkuk)
Kita panggil saja dokter Sapta ke sini. Biar cepat sembuh, nanti Ayah
minta disuntik saja. (sambil meletakkan telapak tangannya di atas
kening Andina dan dibolak-balik telapak tangannya)
ANDINA (kaget)
WHAT? DISUNTIK? TIDAAAAAK……! (sambil bergumam dalam hati)
WHAT? DISUNTIK? TIDAAAAAK……! (sambil bergumam dalam hati)
Dina udah sembuh!
Jangan panggil dokter Sapta! Pliiiiissss….! (sambil
meloncat dari kasur dan berteriak)
Andina malu sekaligus kesal, karena dia lupa
memperhitungkan kemampuan Ayah untuk bisa menebak kebohongannya, sekaligus
ketakutannya akan jarum suntik. Hilang keinginanya untuk memiliki BlackBerry
idamannya.
AYAH
Sini coba ceritakan ke Ayah, kenapa kamu pura-pura sakit? (sambil melambaikan tangan ke arah Andina)
ANDINA (gugup)
Egmmmm .... (sambil mencari alasan) Gini yah… egmm… Soalnya, teman-teman Dina
udah pada punya BlackBerry, hanya Dina yang belum… (sambil menunduk)
AYAH (sambil mengelus kepala Andina)
Sekarang Ayah tanya ke kamu. Andaikan kamu tidak punya BlackBerry, apa lantas
kamu dimusuhi mereka?
ANDINA (mengerutkan kening)
Enggak sih yah ..
AYAH (tetap mengelus kepala Andina)
Andaikan kamu tidak punya BlackBerry, apa dunia ini akan kiamat? Dan
andaikan hape kamu bukan BlackBerry, apa lantas kamu tidak bisa kirim sms dan
teleponan sama sekali?
ANDINA (sambil merayu)
Tapi… apa salah kalau Dina pengen gaya seperti teman-teman Dina yang
lain? Dina kan malu? Ayah kayak nggak pernah muda aja.
AYAH (sambil menghela nafas)
Okey, kalau kamu tetep kekeuh, Ayah akan belikan buat kamu, tapi dengan
satu syarat… (sambil menunjuk Andina)
Kamu harus dapat ranking pertama di kelas.
ANDINA (kaget)
Ranking satu? (sambil mengerutkan
kening dan kecewa, kemudian menunduk)
AYAH (meyakinkan)
Ayah ingin kamu belajar bahwa untuk meraih keinginan, semuanya harus
dengan perjuangan!! (dengan suara tegas).
Ayah bisa saja ngasih kamu BB dengan mudah, tapi nantinya kamu tidak akan
terbiasa bekerja keras. Kamu akan terbiasa menggampangkan semuanya.
Ujung-ujungnya, kamu akan jadi anak yang mudah menyerah dan lembek.
ANDINA (terdiam dan menunduk)
Kemudian Ayah membiarkan Andina merenung
sendirian dikamarnya, untuk pada akhirnya nanti mengambil keputusan. Demi masa
depannya. Demi kebaikannya sendiri.
TAMAT
Drama ini merupakan cerita yang diambil dari website majalah Gadis yang
sudah dimuat dan dijadikan sebuah cerpen yang berjudul Blackberry dan ditulis oleh Nita
Trismaya merupakan sebuah cerpen yang memberitahukan kepada anak muda bahwa
jangan mudah menyerah untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Dan ini adalah link cerpen yang termuat
di website Gadis :
http://www.gadis.co.id//percikan/blackberry.1/41 http://www.gadis.co.id//percikan/blackberry.2/41
Perbandingan Konotatif
Konotatif dalam Buku Teks Kelas XII
Terbitan Yudhistira, 2007
A.
Pendahuluan
1. Latar
Belakang
Semantik
merupakan bagian dari subbidang linguistik, semantik mengkaji arti atau bidang linguistik
yang mempelajari arti atau sebuah makna. Dalam semantik setiap kata mempunyai
arti yang sesuai dengan kata sebelumnya, jadi setiap kata memiliki
bagian-bagian yang melengkapi kata tersebut untuk mengetahui maknanya. Dalam
pembahasan semantik terdapat arti konotatif yang membahas makna yang diperoleh
melalui proses asosiasi.
Dalam
penelitian ini akan menganalisis buku teks Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang
terdapat materi konotatif kemudian akan dibandingkan dengan adanya persamaan
dan perbedaan yang terjadi di perguruan tinggi pada matakuliah semantik dengan
materi arti konotatif.
Alasan
peneliti membahas arti konotatif yaitu untuk menjelaskan pengertian tentang
arti konotatif serta untuk mengetahui persamaan dan perbedaan yang terjadi pada
materi arti konotatif di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan di Perguruan
Tinggi. Di sekolah biasanya hanya menjelaskan makna yang sebenarnya dari
konotatif, sedangkan di Perguruan Tinggi dijelaskan adanya nilai rasa pada
konotatif.
2. Tujuan
Penulisan
Untuk
menjelaskan pengertian tentang arti konotatif serta untuk mengetahui persamaan
dan perbedaan yang terjadi pada materi arti konotatif di Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) dengan di Perguruan Tinggi.
B.
Pembahasan
1. Kerangka
Teori
Makna
kata konotatif adalah makna tambahan dari sebuah kata atau frasa yang
mengandung nilai-nilai emosional. Makna kata konotatif bersifat subjektif.[1]
Nilai-nilai emosional tersebut didasarkan pada perasaan atau pikiran yang
timbul atau ditimbulkan pada pembicara dan pendengar.
Arti
konotatif dalam perguruan tinggi yaitu konotatif yang dikemukakan oleh Hartmann
dan James, bahawa konotasi adalah aspek arti dari kata atau frasa yang
diasosiasikan dengan nada tambahan yang bersifat subjektif emotif. Sedangkan
Cruse memberi beberapa arti konotasi yaitu (1) dalam bahasa sehari-hari,
konotasi berarti kurang lebih sama dengan asosiasi, (2) dalam penggunaan
teknisnya, istilah konotasi mengacu kepada aspek arti yang tidak disadari atas
kondisi kebenaran, dan (3) kadangkala istilah konotasi digunakan sebanding
dengan istilah intensi.[2] Istilah
konotatif ini sering disamakan dengan arti afektif dan arti emotif karena kedua
arti tersebut juga berhubungan dengan perasaan atau emosional seseorang ataupun
makna yang menunjukkan perasaan. Sedangkan arti konotatif menurut Veehar yaitu
konotasi adalah arti yang dapat muncul pada penutur akibat penilaian afektif
atau emosional seseorang.[3]
Maka
dapat disimpulakan, bahwa konotatif merupakan arti tambahan dari suatu kalimat
yang dapat diperoleh melalui asosiasi setempat, konotatif juga bersifat
subjektif, emotif dan sikap penggunanya serta konotatif tersebut dapat dimiliki
bersama-sama oleh seluruh masyarakat.
2. Analisis
Dalam
pengajaran disekolah, guru menjelaskan arti konotatif hanyalah sebatas memberi
arti yang sebenarnya pada setiap kalimat tanpa menjelaskan adanya nilai rasa di
setiap kata konotatif tersebut. Misalnya, contoh dari konotatif disekolah
yaitu; “Awan hitam kembali menyelimuti
wajahnya, ia telah kehilangan buah hati yang selama ini menjadi pelipur lara
hidupnya.” Maksud dari contoh tersebut yaitu makna konotatif awan hitam bukanlah makna yang
sebenarnya melainkan bermakna sedih
atau sedang berduka dan makna buah hati yaitu bermakna anak kesayangan, maka jika kalimat di
atas di jadikan makna yang sebenarnya yaitu ia sedang berduka karena ia telah
kehilangan anak kesayangannya yang selama ini menemani hidupnya. Dengan
penjelasan tersebut, maka guru hanya membarikan ungkapan-ungkapan yang terkait
konotatif dalam pembelajaran serta memberi tahu arti yang sebenarnya.
Sedangkan
pengajaran arti konotatif dalam perguruan tinggi, selain menjelaskan ungkapan
yang terkait juga menjelaskan adanya nilai rasa yang terdapat pada kata
konotatif tersebut. Nilai rasa tersebut terbagi menjadi dua macam yaitu
konotasi positif dan konotasi negatif atau baik buruknya suatu kata tersebut.
Misalnya kata monyet memiliki
konotasi yang positif jika kata tersebut dikatakan untuk hewan monyet, namun kata monyet menjadi
konotasi negatif karena kita dapat menggunakannya sebagai makian atau mengejek
seseorang dengan kata monyet. Maka nilai rasa monyet tersebut menjadi negatif karena terjadinya proses asosiasi
yang berulang dalam masyarakat setempat.
Kemudian
pada kata istri dengan sinonimnya permaisuri dan bini, memiliki rasa yang berbeda-beda meskipun arti dari kata
tersebut adalah sama. Penggunaan kata istri
merupakan berkonotasi netral, tidak memiliki rasa yang mengenakkan. Tetapi pada
kata permaisuri tersirat makna
mengagungkan, memiliki konotasi positif atau nilai rasa yang mengenakkan, namun
pada nyatanya dirasakan sebagai mengejek seseorang. Kemudian pada kata bini, tersirat makna merendahkan derajat
seseorang, maka kata bini memiliki konotasi negatif, nilai rasa yang tidak
mengenakkan, orang akan merasa tidak enak jika dipanggil bini.
Dengan
demikian persamaan arti konotatif di sekolah dengan perguruan tinggi yaitu
sama-sama menjelaskan tentang arti tambahan dari suatu kalimat yang dapat
diperoleh melalui asosiasi setempat, serta bersifat subjektif dan emotif. Kemudian
perbedaan makna konotatif disekolah yaitu guru hanya menjelaskan arti konotatif
atau makna yang sebenarnya saja. Sedangkan arti konotatif di perguruan tinggi
yaitu selain menjelaskan ungkapan yang terkait juga menjelaskan adanya nilai
rasa yang terdapat pada kata konotatif tersebut.
Perbedaan
tersebut terjadi karena pengajaran guru yang kurang efektif dan hanya terpaku
pada buku pelajaran atau modul bahasa indonesia, sehingga tidak dapat mengembangkan
materi konotatif, maka siswa pun tidak mengetahui dan tidak memahami tentang
nilai rasa suatu kata konotatif. Seharusnya guru dapat mengembangkan materi
konotatif hingga siswa dapat mengetahui nilairasa konotatif di sekolah dan jika
siswa melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, siswa sudah mengetahui nilai
rasa yang terdapat dalam konotatif dan dapat memperdalam materi konotatif
tersebut di perguruan tinggi.
C.
Simpulan
Arti
konotatif terbentuk dari adanya arti tambahan dalam suatu kalimat yang
diperoleh dari proses asosiasi setempat yang sudah disepakati, konotatif ini
dimiliki oleh semua masyarakat, konotatif bersifat subjektif dan emotif yang
mewakili perasaan seseorang. Arti konotatif mengandung nilai rasa di dalamnya,
yaitu konotatif positif dan konotatif negatif.
Konotatif
yang terjadi disekolah adalah guru hanya menjelaskan ungkapan dan arti
sebenarnya saja, berbeda dengan arti konotatif di perguruan tinggi yang tidak
hanya menjelaskan arti sebenarnya tetapi juga menjelaskan nilai rasa di dalam
arti konotatif tersebut. Perbedaan ini terjadi karena kurangnya guru yang dapat
mengembangkan materi konotatif di sekolah sehingga siswa kurang memahami
pengertian konotatif yang sebenarnya.
Menulis Bahasa Kedua di Pasca Proses
Dalam
artikel Dwight Atkinson yang berjudul menulis bahasa kedua dalam era
post-proses menjelaskan bahwa ia menyelidiki empat komponen yang diungkapkan
oleh Trimbur dalam post-proses yaitu pergantian sosial, pasca teori kognitif,
arena ideologi dan komposisi sebagai kegiatan budaya. Dalam artikel Trimbur,
terdapat buku tentang apa yang dimaksud dengan pergantian sosial, pasca teori
kognitif dan pedagogi yang mewakili keaksaraan ideologi dan komposisi sebagai
kegiatan budaya, dimana dengan posisi mereka sendiri dan subjektivitas orang lain,
wacana, praktik dan lembaga harus menulis bahasa kedua tersebut.
Dari komponen sosial
menurut Trimbur merupakan respon individu dan ilmu sosial yang berkaitan dengan
strukturalisme. Bahasa kedua juga menunjukkan proses menulis untuk membimbing
setiap individu dalam belajarnya. Praktek-praktek pegajaran yang diikuti yang
berfokus pada pengembangan batin dan hubungannya dengan lingkungan sosial.
Kemudian pada pasca kognitif merupakan mengacu kepada kritik dari sekolah
proses-menulis penelitian, keseluruhan kompleks pada asumsi inti dengan
sebagian besar pada proses manusia dalam menulis bahasa kedua. Keaksaan sebagai
arena ideologi yang berkembang di sini mengatakan bahwa membaca dan menulis
bukan sebagai kontekstual informasi terpusat melainkan sebagai hubungan
kekuasaan, masyarakat, budaya dan individu itu sendiri. Kemudian komposisi
sebagai kegiatan budaya yang berfokus pada penggunaan keaksaraan yang telah
mendominasi lembaga sosial di barat.
Kritik
proses pedagogi pada bahasa pertama menunjukkan ketidakcocokan antara proses
pedagogi dan kehidupan pengalaman berbagai macam siswa karena banyak yang
menunjukkan cara-cara penulisan non mainstream yang mungkin dirugikan oleh
proses bahasa pertama dalam menulis. Pada pendidikan di barat digambarkan
pengaruh progresivisme. John Dewey menganjurkan bahwa pedagogi pengalaman
merupakan siswa berkembang secara individu dengan memberikan kesempatan untuk
belajar bagi mereka dengan kebutuhan dan kepentingan diri sendiri.
Pada
pasca proses dijelaskan bahwa kemampuan seseorang untuk berfokus pada menulis
hanya sebagai sebuah proses, atau menjadi kognitif karena post proses berfokus
pada tulisan sebagai kognitif atau internal. Dwight Atkinson mempertimbangkan
dua jenis dalam pasca proses yaitu pertama, tentang proses pedagogi yang
mengasumsikan bahwa terdapat kemiripan yang umum digunakan dalam tulisan bahasa
kedua di ruang kelas. Kedua, tentang pendekatan pasca proses menulis bahasa
kedua bahwa tidak menyarankan proses pedagogi harus diganti dengan apapun dalam
menulis bahasa kedua di dalam kelas.
Dwight
Atkinson menjelaskan artikel Ken Hyland sebagai konsep dasar alternatif utama
untuk memproses pedagogi dengan gendre pendekatan. Chris Casanave memberikan
tinjauan studi kasus penulis bahasa kedua dengan alasan bahwa mereka sangat
berguna dalam mengungkap sosial dan politik secara tertulis di tempat kerja.
Aktivitas menulis merupakan saling berhubungan erat dengan seluruh aktivitas
manusia karena secara tidak sadar manusia selalu menulis dalam tiap harinya.
Era
menulis bahasa kedua, pasca-proses menyoroti sifat bidang kebutuhan kita dan
kemampuan dalam pekerjaan saat ini dan masa depan. Proses menulis bahasa kedua
merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar bila terdapat diruang
kelas dan dilakukan secara tidak sadar bila dilakukan di luar lingkungan
pendidikan, seperti tempat kerja. Sebagai guru bahasa baiknya berdiri di
jantung pendidikan, budaya dan isu-isu dari sosial dan politik. Karena sebagai
guru bahasa kedua harus menerima perannya sebagai orang yang mengajarkan siswa
ke dunia luar, dengan penguasaan bahasa kedua yang akan di ajarkan kepada
siswa.
Bahasa
kedua hadir dan tidak dapat terlepas dari pengajaran bahasa pertama. Menulis
bahasa kedua merupakan proses pembelajaran dari formal maupun non formal.
Bahasa kedua dalam komponen sosial sangat berpengaruh karena untuk berinteraksi
antar sesama pengguna bahasa kedua. Kemudian dalam pasca kognitif menulis
merupakan kegiatan yang harus dilakukan dalam pengajaran di kelas, karena
dengan pasca kognitif menulis bahasa kedua akan mudah dipelajari. Keaksaan
dalam arena ideologi merupakan hubungan yang berkaitan dengan masyarakat,
budaya dan setiap individu karena terkumpulnya gagasan dari setiap orang.
Komposisi sebagai kegiatan budaya merupakan kegiatan budaya yang harus dilakukan
dalam menulis bahasa kedua. Menulis bahasa kedua merupakan kebutuhan kita
ddalam kegiatan sehari-hari yang harus dilaksanakan.
Resume Teater Mada
Mada adalah sosok anak yang cerdas
dan aktif yang menjadi figur temen-teman sekolahnya. Namun di atas pentas
berlangsung setelah beberapa tahun kisah perjalanan Mada mencari Gunadarma
berlalu. Dalam pentas Mada tidak di ceritakan karena kini Mada sudah tidak ada.
Dia hilang dalam pergaulan, menyendiri di sebuah desa terpencil. Kabarnya Mada
sering mengisi luang waktu untuk mengajar anak pedalaman di desa tersebut. Kini
kawan-kawan mada telah berusia 30-an tahun dan mereka kembali menceritakan
bahwa peristiwa perjalanan itu sebagai sesuatu yang tidak istimewa. Mereka
menyatakan bahwa cara pencarian jati diri seperti yang dilakukan Mada adalah
sesuatu yang tidak lagi kontekstual alias jadul untuk diikuti oleh sebagian
dari mereka yang bergenerasi di zaman modern seperti ini.
Tempat dimana mereka hidup di suatu
kota terdapat menawarkan banyak pilihan untuk mengelola berbagai potensi yang
dimilikinya dengan pola mengotak-kotakkan mereka dalam berbagai profesi yaitu
komunitas, organisasi, politik, lembaga karir, wadah profesi dan perkumpulan
keagamaan. Wahana itu malah membuat mereka lupa diri dan membuat lalai untuk
menguak kesejatian diri mereka yang hakiki. Dengan demikian mereka membuat
dirinya sendiri sebagai seorang individu yang pasif yang membuat mereka
menerima nilai dan sistem kerja yang sudah ada begitu saja. Maka yang
melatarbelakanginya yakni kegagalan setiap individu untuk memahami sebuah
proses dengan penuh dedikasi dan loyalitas. Kenyataan ini tak lepas adanya
fenomena instansi di berbagai aspek kehidupan hingga terjadi desakralisasi pada
esesi kemanusiaan.
Terdapat dua tokoh yang hidup dan
hadir dalam subtansi kehidupan nyata. Pertama adalah mbah Linglung, guru
Gunadarma adalah seorang tokoh yang dikagumi oleh Mada. Tokoh yang kedua adalah
Pak Cakra, seorang pengerajin cermin yang menolong Mada di tengah perjalanan
menuju desa Purnarasa. Kedua tokoh ini hidup sebagai orang biasa di antara
kawan-kawan Mada yang mengalami pergaulan dalam proses meraih cita-citanya
Keduanya hadir dalam ketidakberdayaan dan kesulitan generasi muda untuk menjaga
dedikasi dan loyalitas pada sebuah proses mengolah kesejatian diri. Setelah 20
tahun yang lalu mereka gagal mengikuti perjalanan Mada, kini mereka menjalani
hidupnya masing-masing. Tapi semua teman Mada menghadapi jurang kegagalan,
mereka tidak memiliki daya tahan yang baik dan mereka tak mampu belajar dari
kegagalan di masa lalu. Semua hanyalah sekedar obsesi dan kekaguman buta pada
sosok idolanya. Di kota yang mengurung mereka dalam berbagai kepentingan
pragmatisnya begitu sulit ditembus, betapapun nampak indah dan serba mudah.
Maka dalam teater Mada ini memberi
tahu bahwa setiap orang yang terobsesi menjadi seperti idolanya maka mereka
masuk kedalam dunia yang terkotak-kotak sehingga mereka menjadi lupa akan jati
diri mereka sendiri. Setelah mereka mencapai titik kegagalan maka mereka lemah
akan daya tahan duniawi karena mereka tak mampu belajar dari kegagalan di masa
lalu. Yang ingin disampaikan adalah setiap orang mempunyai jati dirinya
masing-masing, boleh mengidolakan seseorang tetapi tidak berlebihan atau tidak
berobsesi menjadi idola tersebut karena semua hanyalah kekaguman buta pada
sosok idolanya.
Langganan:
Postingan (Atom)











