Sabtu, 29 Desember 2012

Konflik batin empat wanita dalam ayat-ayat cinta


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
Karya sastra tidak lahir begitu saja. Karya sastra lahir dari hasil kreativitas, realitas dan imajinasi pengarang. Hasil imajinasi pengarang bukanlah kitab pelajaran dan tidak sama dengan kitab pelajaran, maka karya hasil imajinasi tidak dapat dikaji seperti mengkaji kitab pelajaran melainkan sebuah karya seni.  Dikatakan sebuah karya seni karena memiliki suatu nilai keindahan dalam karya tersebut. Objek yang termasuk karya sastra adalah puisi, drama, prosa fiksi dan sebagainya[1].
Hakikat sastra bandingan adalah menyandingkan dua karya atau lebih. Bandingan tertentu akan memberi wawasan lebih luas dan objektif terhadap sebuah fenomena. Sastra bandinga menghubungkan sastra yang satu dengan yang lain, bagaimana pengaruh antarkeduanya, serta apa yang dapat diambil dan apa yang diberikan[2].
Salah satu yang dapat dibandingkan adalah novel dan film. Novel menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tulisan berupa karangan prosa yang panjang dan menceritakan sebuah kisah sedangkan film adalah selaput tipis yg dibuat dari seluloid untuk tempat gambar negatif (yang akan dibuat potret) atau untuk tempat gambar positif (yang akan dimainkan di bioskop). Novel dan film betul-betul memiliki banyak unsur yang sama, biarpun keduanya adalah dua unsur yang berbeda, keduanya mengkomunikasikan bermacam-macam hal dengan cara yang sama.[3]
Novel ayat-ayat cinta karya Habiburrahman El Shirazy dan difilmkan oleh Hanung Bramantyo dengan judul yang sama. Novel ayat-ayat cinta ini merupakan novel yang sangat fenomenal, sebuah novel yang mampu mencuri perhatian seluruh masyarakat Indonesia. Sebuah novel Islam yang berlatar belakang di Cairo, tentang menghadapi turun-naiknya persoalan hidup dengan cara Islam, memaduka dakwah dan cinta Islam yang berlandaskan pada Allah dan Rasullnya.
Alasan pertama mengapa novel ayat-ayat cinta di ekranisasi, karena adanya respons dan dukungan serta permintaan dari para pembaca ayat-ayat cinta maka novel ayat-ayat cinta ini di ekranisasi. Alasan kedua yaitu untuk mengetahui secara visual bagaimana cara menyatukan cinta dan persoalan hidup dengan cara Islam.
1.2.       Rumusan Masalah
Bagaimana menganalisis unsur-unsur intrinsik serta prinsip-prinsip ekranisasi yang terdapat pada novel ayat-ayat cinta dan filmnya?

1.3.       Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui secara terperinci unsur-unsur intrinsik dan prinsip-prinsip ekranisasi yang terdapat pada novel ayat-ayat cinta dan filmnya.

1.4.       Kerangka Teori
Di zaman yang penuh dengan teknologi ini banyak sutradara yang tertarik dengan novel dan diangkat ke layar putih atau film dengan audio visual yang sangat menawan, apik dan indah untuk dilihat.
Alih wahana adalah perubahan dari satu jenis kesenian ke jenis kesenian lain. Cerita rekaan, misalnya, bisa diubah menjadi tari, drama, atau film, sedangkan puisi bisa diubah menjadi lagu atau lukisan. Sastra dapat bergerak kesana-kemari, berubah-ubah unsurnya agar kita bisa sesuai dengan wahana yang baru[4]. Pelayarputihan atau pemindahan/ pengangkatan sebuah novel ke dalam film disebut dengan ekranisasi[5].
Ekranisasi terdapat tiga proses yaitu (1) Penciutan, (2) Penambahan, (3) Perubahan bervariasi. Proses penciutan merupakan adanya suatu adegan yang tidak ditampilkan kedalam film bahkan cerita, alur, penokohan, latar, dan suasana pun memungkinkan terjadinya penciutan. Sedangkan proses penambahan yaitu di dalam film memungkinkan terjadinya penambahan cerita, alur, penokohan, latar dan suasana. Proses perubahan variasi adalah perubahan yang terjadi pada cerita, alur, penokohan, latar dan suasana dari novel ke film karena alasan tertentu untuk menunjang keberadaan film tersebut.
Untuk membahas konflik batin 4 tokoh wanita terhadap tokoh utama dalam ayat-ayat cinta dengan mengunakan pendekatan psikologi sastra. Psikologi Sastra adalah analisis teks dengan mempertimbangkan relevansi dan peranan studi psikologis[6]. Jadi, psikologi sastra merupakan analisis yang terdapat pada karya sastra dari sudut kejiwaan karya sastra tersebut, didalamnya terdapat tokoh-tokoh yang mempunyai karakteristik yang khas.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Biografi Habiburrahman El Shirazy dan Hanung Bramantyo
2.1.1 Habiburrahman El Shirazy
Habiburrahman El Shirazy adalah penulis yang cukup aktif menulis. Ia lahir di Semarang, 30 September 1976 pada hari kamis. Kang Abik demikian novelis muda ini biasa dipanggil, ia memulai pendidikan menengah di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak di bawah asuhan KH. Abdul Bashir Hamzah. Tahun 1992 ia merantau ke Kota Budaya Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Surakarta, kemudian lulus tahun 1995. Setelah itu melanjutkan sekolahnya ke Fak. Ushuluddin, Jurusan Hadis di Universitas Al-Azhar, Cairo yang lulus tahun 1999 dan telah menyelesaikan Postgraduate Diploma (Pg.D) S2 di The Institute for Islamic Studies in Cairo.
Habiburrahman sejak SLTA telah menulis naskah teatrikal puisi berjudul Dzikir Dajjal sekaligus menjadi sutradara dalam pementasannya bersama Teater Mbambung di Gedung Seni Wayang Orang Sriwedari Surakarta (1994). Kemudian ia juga telah menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarai pementasannya di Cairo, yaitu: Wa Islama (1999), Sang Kyai dan Sang Durjana (gubahan atas karya Dr. Yusuf Qardhawi yang berjudul Alim Wa Thaghiyyah, 2000). Kang Abik ini juga menghasilkan karya terjemahan seperti Ar-Rasul (GIP, 2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (GIP, 2002), Menyucikan Jiwa (GIP, 2005) dan lain-lain.
Karya-karya Kang Abik diantaranya Ketika Cinta Berbuah Surga (Cetakan ke-2, MQS Publishing, 2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (Cetakan ke-2, Republika, 2005), Di Atas Sajadah Cinta (Cetakan ke-3, Basmala, 2005). Beberapa novel yang sedang dikerjakan yaitu Langit Mekkah Bewarna Merah, Bidadari Bermata Bening, Dalam Mihrab Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. Setelah menyelesaikan novel Ayat-Ayat Cinta yang meledak dan fenomenal, Kang Abik akan segera meluncurkan novelnya Ketika Cinta Bertasbih dengan setting Mesir-Indonesia yang diperkirakan setebal 500 halaman.[7]

2.1.2 Hanung Bramantyo
Setiawan Hanung Bramantyo nama lengkap sutradara muda ini yang berumur 37 tahun. Ia lahir di Yogyakarta, 1 Oktober 1975 pada hari rabu. Pendidikan yang ia tempuh yaitu Fak. Ekonomi Universitas Islam Indonesia namun tidak ia tidak menyelesaikannya, kemudian ia pindah ke Institut Kesenian Jakarta mengambil Jurusan Film, Fak. Film dan Televisi.
Pria lulusan SMA Muhammadiyah 1 Prambunan telah menghasilkan banyak film baik di layar kaca maupun di layar lebar, seperti Topeng Kekasih (2000), Gelas-gelas Berdenting (2001), When... (Film pendek, 2003), Brownies (2004), Catatan Akhir Sekolah (2005), Jomblo (2006), Lentera Merah (2006), Kamulah Satu-satunya (2007), Legenda Sundel Bolong (2007), Get Merried (2007), Ayat-Ayat Cinta (karya spektakuler, 2008), Doa yang Mengancam (2008), Perempuan Berkalung Sorban (2009), JK (Film pendek, 2009), Get Merried 2 (2009), Menembus Inpian (2010), Sang Pencerah (2010) dan film yang ditayangkan di televisi yaitu Sayekti dan Hanafi (2005).
Zaskia Adya Mecca merupakan istri dari Hanung Bramantyo yang telah dikaruniai seorang anak yaitu Kama Syabilla Bramantyo dan seorang anak dari istrinya yang pertama yaitu Bramastya Bhumi. Kini Hanung telah mendapatkan berbagai macam penghargaan yaitu Bronze 11th Cairo International Film Festival (CIFF) memenangkan juara III categori TV program di Mesir lewat Film Tingkling Glass. Sutradara terbaik lewat Film Brownies untuk Piala Citra, Film layar lebar dalam Festival Filem Indonesia (FFI) tahun 2005. Kemudian Festifal Film Bandung 2008 menjadi sutradara terpuji lewat Film Ayat-Ayat Cinta yang meraih penghargaan Film terpuji.[8]
2.2 Sinopsis Novel Ayat-Ayat Cinta dan Filmnya
2.2.1 Sinopsis Novel Ayat-Ayat Cinta
Fahri bin Abdullah Shiddiq adalah seorang pemuda Indonesia yang menuntut ilmu di di Universitas Al-Azhar, Mesir. Di Mesir Fahri tinggal bersama dengan keempat orang temannya yang juga berasal dari Indonesia. Mereka adalah Siful, Rudi, Hamdi, dan Misbah. Mereka tinggal di sebuah flat sederhana di lantai dasar, sedangkan yang lantai atas ditempati oleh keluarga Kristen Koptik yang sekaligus menjadi tetangga mereka. Keluarga ini terdiri dari Tuan Boutros, Madame Nahed dan dua oranga nak mereka, taitu Maria dan Yousef.
Dengan menaiki metro, Fahri berharap ia akan sampai tepat waktu di Masjid Abu Bakar As-Shiddiq. Di metro itulah ia bertemu dengan Aisha. Aisha yang saat itu dicaci maki dan diumpat oleh orang-orang Mesir karena memberikan tempat duduknya pada seorang nenek berkewarganegaraan Amerika dan ditolong oleh Fahri.
Fahri juga mempunyai tetangga lain berkulit hitam yaitu Bahadur. Istrinya bernama madame Syaima dan anak-anaknya bernama Mona, Suzanna, dan Noura. Namun Noura disiksa oleh Bahadur dan madame Syaima seperti bukan anak mereka. Fahri pun menolong Noura dengan perantara Maria sementara Fahri mencari orang tua asli Noura, setelah Noura bertemu dengan orang tuanya Noura memberikan surat cinta kepada Fahri.
Sementara itu, Syaikh Utsman menjodohkan Fahri dengan keponakan Eqbal Hakan Erbakan yaitu Aisha. Setelah bertemu mereka melakukan ta’aruf dan Fahri pun menyetujui perjodohannya dengan Aisha. Baru saja Fahri menikah beberapa waktu lalu dengan Aisha, Fahri di tangkap oleh polisi karena penuduhan pemerkosaan terhadap Noura. Satu-satunya saksi yang dapat membantu membebaskan Fahri saat itu adalah Maria. Namun, Maria pun sedang terbaring koma di rumah sakit. Aisha yang begitu ingin membebaskan Fahri dari penjara, dia meminta Fahri datang ke rumah sakit untuk menikahi Maria.
Setelah itu Maria memberi kesaksiannya di depan Hakim, Noura pun tidak dapat mengelak. Namun Maria pun masuk rumah sakit kembali karena sakitnya tambah parah, suatu malam Maria bermimpi bertemu dengan Ibunda Maryam, sosok yang diceritakan dalam surat Maryamyang dia hapal dan selalu di bacakan olehnya. Ketika terbangun, dia meminta agar Aisha dan Fahri membimbingnya untuk masuk Islam, lalu Maria berwudhu dan kembalitidur. Namun, di tidurnya yang kali ini Maria tidak bangun lagi untuk selama-lamanya. Maria meninggal dalam keadaan Islam.
2.2.1 Sinopsis Film Ayat-Ayat Cinta
Diawali dengan Fahri (Fedi Nuril) yang panik dan mengetuk-ketuk pintu Maria (Carissa Putri) karena komputer Fahri rusak yang terdapat proposal tesisnya namun dengan bantuan teman-temannya Fahri mampu menyelesaikan proposal tesisnya dalam waktu tiga hari dan memperkenalkan Nurul (Melanie Putria) yang mengagumi Fahri. Kemudian dilanjutkan di Universitas Al-Azhar yang mengadakan diskusi dengan organisasinya.
Ketika di metro ia bertemu dengan Aisha. Aisha yang saat itu dicaci maki dan diumpat oleh orang-orang Mesir karena memberikan tempat duduknya pada seorang ibu-ibu berkewarganegaraan Amerika dan ditolong oleh Fahri. Malam harinya Fahri menghubungi Maria untuk menolong Noura yang disiksa oleh ayahnya. Fahri pun mencari orang tua asli Noura dibantu dengan Syaikh Ahmad, setelah Noura bertemu dengan orang tuanya Noura memberikan surat cinta kepada Fahri.
Sementara itu, Syaikh Utsman menjodohkan Fahri dengan keponakan Eqbal Hakan Erbakan yaitu Aisha. Setelah bertemu mereka melakukan ta’aruf dan Fahri pun menyetujui perjodohannya dengan Aisha. Maria frustasi karena Fahri telah menikah dengan Aisha dan Maria ditabrak oleh orang suruhan Bahadur, sedangkan paman dan bibi Nurul meminta Fahri untuk menikahi Nurul karena kehilangan cahaya hidupnya. Kemudian Fahri di tangkap oleh polisi karena penuduhan pemerkosaan terhadap Noura. Satu-satunya saksi yang dapat membantu membebaskan Fahri saat itu adalah Maria. Namun, Maria pun sedang terbaring koma di rumah sakit akibat kecelakaan.
Aisha meminta Fahri datang ke rumah sakit untuk menikahi Maria. Setelah itu Maria memberi kesaksiannya di depan Hakim, Noura pun tidak dapat mengelak dan mengakui bahwa Noura berbohong. Kemudian hari-hari yang dilalui Fahri, Aisha dan Maria pun penuh dengan ketegangan, atas ketidak ikhlasan Aisha ia pun ingin menyendiri. Namun semua itu menjadi indah saat Fahri memberikan pengertian tentang keikhlasan.
Aisha pun masuk rumah sakit karena kelelahan sedangkan Maria masuk rumah sakit karena sakit yang dialaminya mulai kambuh. Waktu yang begitu lama menunggu Fahri, mambuat Aisha menjenguk Maria. Saat ingin dipangilkan dokter karena Maria pingsan namun Maria ingin diajari sholat dan menginginkan sholat dengan Fahri dan Aisha. Namun dalam sujutnya Maria tidak bangun lagi untuk selama-lamanya. Maria meninggal dalam keadaan Islam.
2.3 Analisis Ekranisasi Novel Ayat-Ayat Cinta dan Filmnya
2.3.1 Unsur-unsur Intrinsik Novel Ayat-Ayat Cinta dan Filmnya
2.3.1.1 Tema
Tema pada novel ayat-ayat cinta adalah seorang yang memiliki rasa sabar, tabah dan ikhlas dalam menghadapi berbagai macam kesulitan dan rintangan dalam hidupnya serta memiliki sikap toleransi. Tema dalam novel hampir sama dengan filmnya, namun di filmnya ditambahkan masalah poligami yang diperpanjang dan didramatisasi.
2.3.1.2 Plot (alur)
1. Tahap Pengenalan
Dalam novel diawali dengan memperkenalkan teman-temannya yang tinggal satu flat dengan Fahri dan ia kenal dengan keluarga Maria. Maria seorang Kristen Koptik yang mampu menghafal beberapa surat Al-Qur’an, salah satu suratnya yaitu surat Maryam.
Ia seorang Kristen Koptik atau dalam bahasa asli Mesirnya qibthi, namun ia suka pada Al-Quran. Ia bahkan hafal beberapa surat Al-Quran. Di antaranya surat Maryam. Sebuah surat yang membuat dirinya merasa bangga. Aku mengetahui hal itu pada suatu kesempatan berbincang dengannya di dalam metro. Kami tak sengaja berjumpa. Ia pulang kuliah dari Cairo University, sedangkan aku juga pulang kuliah dari Al Azhar University. Kami duduk satu bangku. Suatu kebetulan (Ayat-Ayat Cinta, h. 23).

Pada film menit ke 01:25:40 Aisha menyuruh Fahri menceritakan bagaimana ia bertemu dengan Maria pertama kali, agar Maria terbagun dari komanya.
2. Tahap Pemunculan Konflik
Dalam novel terdapat banyak konflik yang muncul namun konflik pertama yang pertama muncul adalah ketika Fahri menolong Noura yang disiksa oleh ayahnya namun Fahri meninta pertolongan Maria sebagai perantara menolong Noura.
Aku teringat Maria. Ia gadis yang baik hatinya. Rasa ibaku pada Noura menggerakkan tanganku untuk mencoba mengirim sms pada Maria (Ayat-Ayat Cinta, h. 75).

Dalam film pada menit ke 21:26, Fahri yang menghubungi Maria untuk membantu Noura dan membiarkan Noura menginap dirumah Maria. Pada menit ke 27:00 Noura bertemu dengan orang tua kandungnya dan memberikan sepucuk surat, Fahri mambacanya sambil berjalan menuju pulang kerumah.
3. Tahap Peningkatan Konflik
Dalam Novel yaitu ketika Fahri Fahri Pulang dari Alexsandria berbulan madu, dia di tangkap karena di tuduh memperkosa seorang gadis mesir yaitu Noura.
Tiba-tiba ada orang menyembunyikan bel dengan kasar sekali. Aku bergegas membuka puntu dibuntuti Aisha yang penasaran siapa yang membunyikan bel seperti orang gila itu. Begitu pintu ku buka. Tiga orang polisi berbadan kekar menerobos masuk tanpa permisi dan menghardik (Ayat-Ayat Cinta, h. 303).

Fahri pun diinterogasi, namun berbeda dengan pengakuan Noura karena telah di perkosa oleh Fahri pada saat dia menolong, sedangkan Fahri tidak mersa melakukan hal tersebut, pengakuan Noura tersebut di dukung oleh pengakuan seorang masyarakat yang tinggal di flat dekat Fahri, hal tersebut membuat Fahri kecewa atas perlakuan Noura yang telah memfitnah Fahri.
Dalam filmnya pada menit 56:11 bel yang berbunyi ternyata dari Ustadz Jalal dan Ustadzah Maemuna mendatangi kediaman Fahri untuk menikahi Nurul. Setelah itu bel rumah Fahri berbunyi lagi pada menit 59:00, tiga orang polisi mendatangi dan menangkap Fahri atas tuduhan memperkosa Noura. Namun tidak sempat menjelaskan kepada Aisha, Fahri dipaksa keluar dari rumahnya. Pada menit ke 59:42 Fahri diintogasi dan dimasukkan kedalam penjara.
4. Tahap Klimaks
Dalam novel saat persidangan Fahri dituduh habis-habisan oleh pengaduan Noura dan pengakuan dari salah seorang saksi yang melihat kejadian itu, yang memperkuat bahwa Fahri bersalah.
“Mulanya Fahri banyak menghibur. Dia lalu merayukan dan membujukku dengan kata-kata manis. Entah dari mana ia tahu kalau aku mau dijual pada turis bule. Fahri menawari saya untuk kawin dengannya dan akan diajak hidup bahagia di Indonesia. Ia berjanji akan membuat hidupku bahagia. Malam itu saya menangis dalam pelukan Fahri. Saya merasakan Fahri adalah dewa penyelamat. Entah bagaimana prosesnya malam itu saya telah menyerahkan kehormatan saya padanya. saya terhipnotis oleh janji yang ia berikan....” (Ayat-Ayat Cinta, h. 335).

Fahri tidak mempunyai bukti bahwa ia tidak bersalah, kecuali salah satu kunci utama dalam memecahkan kasus ini adalah Maria sebagai saksi yang bisa membebaskan Fahri, namun Maria sedang terbaring koma.
“Sakitnya sangat parah. Empat hari ini dia koma. Hanya kadang-kadang dia seperti sadar, mulutnya berkomat-kamit mengatakan sesuatu....” (Ayat-Ayat Cinta, h. 341).

Pada film menit ke 01:02:57 Aisha berusaha untuk membebaskan Fahri dari penjara. Ia mencari bukti yang kuat untuk membebaskan Fahri, ia menanyakan kepada Nurul, Maria namun Maria sedang koma. Kemudian pada menit ke 01:07:12 pengakuan salah satu orang yang melihat kejadian tersebut yang memperkuat bahwa Fahri bersalah. Pada menit ke 01:09:01 Noura menyatakan bahwa dirinya telah diperkosa oleh Fahri.
5. Tahap Pemecahan Masalah
Dalam novel, jalan satu-satunya yaitu Fahri terpaksa menikahi Maria yang terbaring koma, karena alasan dia akan sembuh apabila di sentuh oleh Fahri, Aisah pun meminta Fahri menikahi Maria. Dan akhirnya mereka menikah,
Proses akad nikah dilaksanakan dalam waktu yang sangat cepat, sederhana, sesuai dengan permintaanku. Seorang ma’dzun syar’i mewakili Tuan Boutros menikahi diriku dengan Maria dengan mahar sebuah cincin emas. Saksinya adalah dua dokter muslim yang ada di rumah sakit itu (Ayat-Ayat Cinta, h. 378).

Maria pun sembuh dengan sentuhan Fahri, walaupun dia masih duduk di kursi roda, dan Maria pun menjadi saksi kunci kasus Fahri dengan Noura.
“Pak Hakim dan seluruh yang hadir dalam sidang ini, saya berani bersaksi atas nama Tuhan Yang Maha Mengetahui bahwa malam itu, sejak pukul dua malam sampai pagi berada di kamarku. Ia sama sekali tidak keluar dari kamarku. Ia selalu bersamaku. Jika dia mengatakan pukul tiga aku mengantarnya turun ke rumah Fahri itu bohong belaka. Jika Noura mengatakan pemerkosaan atas dirinya terjadi dalam rentang waktu itu sungguh tidak masuk akal....” (Ayat-Ayat Cinta, h. 385).

Kekaksian dari Maria, serta kejujuran Noura yang melakukan hal sehina itu karena dia mencintai Fahri dan saksi yang melihat merupakan saksi palsu. Fahri pun dibebaskan.
“... Aku ingin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Malam itu sebelum aku diusir dan diseret si jahat Bahadur ke jalan terlebih dahulu aku diperkosanya....” Noura tersedu sesaat lamanya.
“Akhirnya aku berbohong pada mereka yang menghamiliku adalah Fahri. Sebab aku sangat mencintai Fahri dengan harapan Fahri nanti mau menikahiku....” (Ayat-Ayat Cinta, h. 387).

Dalam film pada menit ke 01:33:41 Fahri terpaksa menikahi Maria yang terbaring lemah dirumah sakit dengan harapan Maria akan sembuh dan dapat menjadi saksi dalam kasus Fahri dengan Noura. Pada menit ke 01:35:44 Maria mambuka matanya berkat sentuhan halus dari Fahri dan kecupan dikeningnya. Keesokannya Maria menjadi saksi dalam kasus Fahri dan Noura, ia pun mengatakan yang sebenarnya meski ia masih duduk dikursi roda pada menit 01:38:04. Fahri pun dibebaskan dari semua tuduhan pada menit ke 01:42:08
6. Tahap Penyelesaian
Fahri memiliki 2 oarang istri yang sholeh yaitu Aisha dan Maria, namun keadaan Maria yang masih sakit-sakitan karena dia terlalu emosi saat persidangan, akhirnya Maria di rawat kembali. Saat Maria tertidur ia mengigau mambaca surat Thaaha dan berzikir menyebut nama Allah, dalam mimpinya ia tiba di 7 pintu sorga dan ia mau masuk namun Maria tidak diperbolehkan masuk hingga pintu terakhir karena ia tidak mempunyai kunci surga yang ia miliki. Namun pintu Babur Rahmah terbuka perlahan dan seorang wanita cantik memberitahukan kunci masuk surga,
‘Maria dengarkan baik-baik! Nabi Muhammad Saw. telah mengajarkan kunci masuk surga. Dia bersabda, Barangsiapa berwudhu dengan baik, kemudian mengucapkan: Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh (Aku bersaksi tiada Tuhan selalin Allah dan aku bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya) maka akan dibukakan delapan pintu surga untuknya dan dia boleh masuk yang mana ia suka!. (Ayat-Ayat Cinta h. 401).

Kemudian Maria terbangun dan dihadapannya ada Fahri dan Aisah, ia meminta tolong untuk mengajarkan wudhu dan syahadat, Fahri dan Aisha pun membantu Maria. Setelah membaca kalimat syahadat Maria pun meninggal dunia.
... Tak lama kemudian kedua matanya yang bening itu tertutup rapat. Kuperiksa nafasnya telah tiada. Nadinya tiada lagi denyutnya. Dan jantungnya tiada lagi terdengar detaknya aku tak kuasa menahan derasnya lelehan airmata. Aisha juga. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun! (Ayat-Ayat Cinta, h. 402).

Kemudian ada pesan yang ditinggalkan Maria ketika ngobrol dengan Fahri juga Aisah yaitu Maria akan menunggu Fahri di surga Firdaus untuk memadu cinta dan kasih.
“Aku masih mencium bau surga. Wanginya merasuk ke dalam sukma. Aku ingin masuk kedalamnya. Di sana aku berjanji akan mempersiapkan segalanya dan menunggumu untuk bercinta. Memadu kasih dalam cahaya kesucian dan kerelaan Tuhan selama-lamanya.” (Ayat-Ayat Cinta, h. 402).

Pada film menit ke 01:44:00 Fahri memiliki 2 oarang istri yang sholeh yaitu Aisha dan Maria, rumah tangga mereka pun penuh dengan ketegangan, atas ketidak ikhlasan Aisha ia pun ingin menyendiri. Namun semua itu menjadi indah saat Fahri memberikan pengertian tentang keikhlasan pada menit 01:50:45
Kemudian pada menit ke 01:54:50 Aisha pun masuk rumah sakit karena kelelahan sedangkan Maria juga masuk rumah sakit karena sakit yang dialaminya mulai kambuh. Saat ingin dipangilkan dokter karena Maria pingsan namun Maria memegang tangan Aisha, ia ingin diajari wudhu namun ia tayamum karena tidak bisa ke kamar mandi dan ia ingin sholat dengan Fahri dan Aisha pada menit 02:00:53. Namun Maria tidak bangun lagi untuk selama-lamanya. Maria meninggal dalam keadaan Islam menit ke 02:02:09
2.3.1.3 Latar Cerita
1. Latar waktu
Di novel latar waktunya yaitu saat musim panas,
Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir seakan menguapkan bau neraka. Hembusan angin sahara disertai debu yang bergulung-gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik ke detik (Ayat-Ayat Cinta, h. 15).

Dan musim dingin,
Musim dingin yang beku membuat tulang-tulangku terasa ngilu. Aku nyaris tidak kuat dengan keadaan sel yang sangat menyiksa. Tanpa disiksa pun musim dingin dalam sel gelap, pengap, basah dan berbau pesing itu sudah sangat menyiksa.... (Ayat-Ayat Cinta, h. 357).
Namun dalam film tidak ada musim dingin.
2. Latar tempat
Latar tempat yang digunakan dalam novel ini adalah tempat-tempat sekitar Cairo yang dipaparkan oleh penulis. Di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak si Shubra El-Kaima, ujung utara Cairo.
Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung kota Cairo, untuk talaqqi  pada Syaikh Utsman Abdul Fatah (Ayat-Ayat Cinta, h.16).

Latar di rumah sakit
Rumah sakit tempat Maria dirawat adalah rumah sakit tempat aku dulu dirawat. Begit sampai di sana Madame Nahed langsung meminta temannya untuk memeriksa kesehatanku (Ayat-Ayat Cinta, h.367).

Kemudian latar tempat yang lainnya yaitu Masjid Al-Azhar, Dokki,  Rab’ah El-Adawea, Nasr City, Tura El-Esmen, Hadayek Helwan, Masjid Al-Fath Al-Islami, metro, Maadi,  Sayyeda Zaenab,  Tahrir,  Mahattah El-Behous, Attaba,  flat,  Alexandria,  pengadilan dan di surga.
3. Latar suasana
a. Suasana Senang
Salah satu penggalan cerita yang menggambarkan suasana senang yaitu ketika Fahri dipertemukan dengan Aisha, wanita  ia sukai dan akan melakukan pernikahan.
Yang aku alami tadi sungguhkah kejadian nyata ataukah sekedar mimpi belaka? Terkadang orang yang terlalu bahagia melihat apa yang dialaminya seperti mimpi (Ayat-Ayat Cinta, h.220).
Dalam film terjadi pada menit 38:42 Fahri yang berlari menuju Syaiful dan mengatakan akan menikah dengan wanita yang ia sukai yaitu Aisha. Kemudian Fahri memeluk Syaiful karena senangnya.
b. Suasana Cemas
Salah satu penggalan cerita yang menggambarkan suasana cemas yaitu kecemasan Aisha ketika Fahri ditangkap oleh polisi Mesir.
Aku sangat geram pada sikapnya yang sangat jauh dari sopan dan kelihatan sangat angkuh. Aisha cemas dan memegangi tanganku (Ayat-Ayat Cinta, h.304).
Dalam film adegan cemas ini terjadi pada menit ke 59:35, Aisha memangil-mangil Fahri yang ditangkap oleh polisi Mesir.
c. Suasana Sedih
Salah satu penggalan cerita yang menggambarkan suasana sedih yaitu Fahri dan Aisha menangis ketika Maria meninggal.
Tak lama kemudian kedua matanya yang bening itu tertutup rapat. Kuperiksa nafasnya telah tiada. Nadinya tiada lagi denyutnya. Dan jantungnya tiada lagi terdengar detaknya aku tak kuasa menahan derasnya lelehan airmata. Aisha juga. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun! (Ayat-Ayat Cinta, h. 402).

Digambarkan dalam film yaitu pada menit ke 02:02:29 Fahri yang memangil-mangil Maria dalam tidurnya namun ia tidak terbangun. Maria pun meninggal setelah melakukan shalat jama’ah.
2.3.1.4 Penokohan
1. Fahri bin Abdullah Shidiqq adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar, Cairo. Seorang murid Syaikh Utsman Abdul Fattah yang menghafal Al-Qur’an serta pemuda bersahaja yang memegang teguh prinsip hidup dan kehormatannya serta memikirkan berbagai macam target demi hidupnya dimasa yang akan datang. Ia pemuda yang cerdas dan suka menolong sehingga membuat para wanita jatuh hati padanya.
Ya jama’ah, shalli ‘alan nabi, shalli ‘alan nabi!” ucapku pada mereka sehalus mungkin. Cara menurunkan amarah orang Mesir adalah dengan mengajak membaca shalawat. Entah riwayatnya dulu bagaimana. Di mana-mana, di seluruh Mesir jika ada orang bertengkar atau marah, cara melerai dan meredamnya pertama-taman adalah dengan mengajak membaca shalawat.... (Ayat-Ayat Cinta, h. 44).
Dalam film menit 14:00 Fahri melerai orang Mesir yang marah ketika wanita bercadar itu memberikan tempat duduk untuk warganegara Amerika. Hingga muka Fahri rela dipukul demi terciptanya kebenaran.
2. Aisha Greimas adalah seorang wanita keturunan Jerman dan Turki yang memakai cadar yang sedang menuntut ilmu di Cairo. Wanita yang berwajah cantik dengan bulu mata yang lentik dan ia pintar dalam menghadapi masalah. Dengan latar belakang keluarganya yang kaya raya, ia mempunyai flat yang mewah. Sejak bertemu Fahri, Aisha jatuh cinta pada Fahri yang membela Islam dan tidak membeda-bedakan agama. Ia wanita Islami dengan ketulusan hati dan ikhlas menolong orang seperti,
Nenek bule kelihatannya tidak kuat lagi berdiri. Ia hendak duduk menggelosor di lantai. Belum sempat nenek bule itu benar-benar menggelosor, tiba-tiba perempuan bercadar itu berteriak mencegah. Perempuan bercadar putih bersih itu bangkit dari duduknya. Sang nenek dituntun dua anaknya beranjak ke tempat duduk (Ayat-Ayat Cinta, h. 41).

Sedangkan pada filmnya pada menit 13:17 Aisha yang menawarkan tempat duduknya.

3. Maria Girgis adalah seorang gadis dengan mata yang indah, bulu mata yang begitu menarik, kulit yang putih dan rambut pirang, karena ia seorang keturunan indo. Walaupun Maria adalah seorang kristiani, tetapi Maria mengahafal beberapa surat dalam kitab suci Al-Quran. Salah satu surat yang paling dia hapal adalah surat Maryam. Ia termasuk gadis yang mengagumi Islam dan gadis yang periang, sopan, pintar dan ia menganggumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta.
“Aku hafal surat Maryam dan surat Al-Maidah di luar kepala” (Ayat-Ayat Cinta, h. 24)

Sedangkan pada film menit 01:26:39 Maria membaca surat Maryam di metro.

4. Noura Bahadur adalah seorang gadis yang selalu disiksa dengan ayah tirinya yaitu Bahadur. Noura termasuk anak yang pendiam, menurut dan tertutup. Ia sangat mengagumi Fahri hingga ia hamil dan memfitnah Fahri untuk menjadi ayah dari calon bayinya.
Dan malam ini kami melihat hal yang membuat hati miris. Noura disiksa dan diseret tengah malam ke jalan oleh ayah dan kakak perempuannya. Untung tidak musim dingin. Tidak bisa dibayangkan jika ini terjadi pada puncak musim dingin. (Ayat-Ayat Cinta, h. 73-74)
Dalam film 21:25 Noura yang diseret ke jalan dan dimarahi oleh ayahnya.
5. Nurul binti Ja’far Abdur Razaq adalah seorang anak kyai terkenal, yang juga menimba ilmu di Al Azhar. Ia termasuk gadis yang cerdas dan sholehah namun ia pemalu untuk menyatakan rasa cintanya pada Fahri.
“Sejak dua bulan yang lalu. Sejak ia menangis di pangkuanku, Nurul sering menangis sendiri. Berkali-kali dia cerita padaku akan hal itu. Ia ingin sekali orang itu tahu bahwa dia sangat mencintainya, lalu orang itu membalas cintanya dan langsung melaksanakan sunnah Rasulullah. Nurul anti pacaran. Tapi rasa cinta di dalam hati siapa bisa mencegahnya. Aku tahu benar Nurul siap berkorban apa saja untuk kebaikan orang yang dicintainya itu bantulah kami untuk membuka hati orang itu?” kata Ustadzah Maemuna. (Ayat-Ayat Cinta, h. 229-230).

Namun dalam film menit ke 57:04 Ustadzah Maemuna dan Ustadz Jalal meminta Fahri untuk menikahi Nurul keponakan mereka.
2.3.1.5 Sudut Pandang
Dalam novel ini, Fahri menempatkan dirinya sebagai “Aku” yaitu sudut pandang orang pertama. Pada bagian awal cerita, Fahri tidak langsung memperkenalkan namanya dahulu, melainkan melaui aktivitas-aktivitasnya.
Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen aku bersiap untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Sidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi pada Syaikh Utsman Abdul (Ayat-Ayat Cinta, h. 16).

Namun pada filmnya lebih menitikberatkan Fahri sebagai tokoh utama yang menjadi titik pandang dari keseluruhan cerita yaitu orang ketiga diluar cerita.
2.3.1.6 Amanat
Amanat yang terkandung dalam novel ayat-ayat cinta yaitu disetiap hidup seseorang akan menemui rintangan yang menghadang tujuan yang hendak dicapai, hanya dengan sabar dan keikhlasan semua rintangan yang menghadang dapat dilewati dengan baik.
2.3.1.7 Konflik batin 4 tokoh wanita terhadap tokoh utama
Konflik batin yang akan dibahas adalah konflik batin 4 wanita yaitu Aisha, Maria, Noura dan Nurul terhadap tokoh utama, Fahri. Keempat tokoh wanita tersebut sangat menginginkan Fahri sebagai pendamping hidup mereka. Setelah Fahri menikah dengan Aisha, tokoh Maria, Noura dan Nurul diceritakan memiliki kesedihan yang mendalam. Konflik batin yang terjadi pada Maria yaitu Maria menjadi pendiam, lesu, dan menunduk hingga membuatnya jatuh sakit.
Maria lebih banyak menunduk. Sepertinya ia lesu sekali.... (Ayat-Ayat Cinta, h. 284).

Dalam filmnya pada menit ke 44:50 Maria menangis saat mengetahui bahwa Fahri telah menikah, ia menjadi pendiam dan sering melamun. Hingga ia menjadi koma dan memanggil-mangil nama Fahri setelah ditabrak mobil.
Konflik batin yang dirasakan Noura adalah ia menjadi memfitnah Fahri untuk menikahinya.
“Akhirnya aku berbohong pada mereka yang menghamiliku adalah Fahri. Sebab aku sangat mencintai Fahri dengan harapan Fahri nanti mau menikahiku....” (Ayat-Ayat Cinta, h. 387).

Dalam film menit 01:39:55 Noura yang bercerita bahwa Fahri tidak bersalah, ia memfitnah Fahri karena ia sangat mencintai Fahri dan Fahri tidak membalas surat cinta Noura.

Konflik batin yang dirasakan Nurul yaitu ia kehilangan cahaya hidupnya dan menjadi lesu.
Kutulis surat ini dengan lelehan airmataku yang tiiada berhenti dari detik ke detik. Kutulis surat ini kala hati tiada lagi mampu menahan nestapa yang mendera-dera perihnya luar biasa.... (Ayat-Ayat Cinta, h. 287).

Dalam film pada menit ke 03:45 Nurul yang merobek foto Fahri di dinding kampus, menunjukan kesukaannya kepada Fahri dan pada menit 47:38 Nurul yang menjadi tidak perduli pada Fahri setelah Fahri menikah. Hingga paman dan bibi Nurul meminta Fahri untuk menikahi Nurul yang kehilangan cahaya hidupnya.
Konflik batin yang dirasakan Aisha yaitu ketika Fahri menikahi Maria, Aisha pun menjadi cemburu.
Kulihat Aisha duduk sendirian dibangku. Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya. Aisha diam saja. Matanya basah. (Ayat-Ayat Cinta, h. 380).

Pada film menit ke 17:03 Aisha menanyakan Fahri pada pamannya, ia menyukai Fahri setelah mambantunya di metro. Kemudian pada menit 01:34:40 Aisha menangis ketika mendengar Fahri berbicara ia mencintai Maria. Aisha pun mempunyai rasa ketidak ikhlasan menerima Maria.
Konflik batin yang dirasakan keempat tokoh tersebut yaitu perjuangan batin untuk mendapatkan cintanya. Mereka sama-sama mencintai tokoh utama, namun tokoh utama hanya mencintai satu wanita meski pun ia menikahi wanita lain namun dengan persetujuan isterinya.
2.3.2 Proses yang terjadi pada Novel Ayat-Ayat Cinta dan Filmnya
2.3.2.1 Penciutan
1.      Tuan Boutros Rafael Girgis dan Yousef Girgis, bapak dan adik laki-laki Maria diceritakan dalam novel yang mempunyai sifat suka menolong,
“... Yang jadi pikiran kami adalah Noura harus pergi kemana. Kami tidak tega dia pergi  tanpa tujuan dan tanpa rasa aman” jelas Tuan Boutros. (Ayat-Ayat Cinta, h. 81).
Kemudian Yousef Girgis yang mempunyai sifat sama dengan ayahnya. Ia menolong Fahri ketika Fahri ingin membeli mobil,
Atas bantuan Yousef, kami membeli Nissan Terrano hitam metalik yang masih baru dengan harga sangat miring. . (Ayat-Ayat Cinta, h. 285).

Namun dalam film tidak ada sosok bapak dan adiknya tapi  menjadikan Nahed Girgis seorang ibu tunggal.
2.      Fahri mengadakan syukuran atas kelulusannya dengan teman satu flat (h.69) namun dalam film Fahri tidak mengadakan syukuran.
3.      Fahri dan temen-temannya memberikan kejutan dan  kado ulang tahun untuk madam Nahed dan Yousef (h.113) dan keluarga Maria mengajak Fahri serta teman-temannya untuk makan malam di Cleopatra Restauran (h.123), sedangkan dalam filmnya tidak ada kejutan, kado ulang tahun dan makan malam di restauran.
4.      Ketika Fahri berada di metro setelah bertemu dengan Aisha dan Alicia, ia merasa kelelahan kemudian ia pingsan lalu dibawa ke rumah sakit (h.174). Sedangkan Fahri dalam filmnya ia tidak masuk rumah sakit.
5.      Dalam novel terdapat saat-saat indah di tepi sungai Nil (h.251), rencana-rencana yang Fahri dan Aisha buat selama setahun (h.267), surat dari Nurul (h.281) dan saat ingin ke kota Alexandria (h.292), namun pada filmnya semua itu tidak ada.
6.      Pada novel Aisha yang ingin direngut kesuciannya oleh polisi berkumis namun ia diselamatkan oleh Magdi (h.322), namun dalam film tidak ada adegan ini.
7.      Dalam novel, ketika Maria menjadi saksi dalam persidangan kemudian ia batuk dan tak sadarkan diri lalu dibawa kerumah sakit (h.385), pada filmnya Maria tidak sakit.
2.3.2.2 Penambahan
1.      Ketika Noura ditolong Maria kemudia ia di titipkan dirumah Nurul (h.86) pada filmnya terjadi penambahan yaitu keesokan harinya Bahadur marah-marah kepada semua orang karena Noura tidak ada didepan rumahnya menit ke 23:55
2.      Yasmin dan Adel, ibu dan bapak kandung Noura lebih menonjol didalam film daripada di novel yang hanya menyebutkan nama saja.
3.      Penambahan cerita ketika Fahri dipenjara ia mendapatkan surat dari Al-Azhar yang mengeluarkan ia dari Universitas tersebut pada menit 01:15:18
4.      Penambahan cerita ketika persidangan selesai Fahri mempunyai dua isteri yang sholehah dan berusaha untuk menyatukan Aisha dan Maria pada menit 01:44:03
5.      Penambahan cerita adanya adegan bercumbu antara Fahri dengan Maria pada menit ke 01:46:05 hingga keikhlasan hati Aisha untuk menerima Maria pada menit 01:50:44
6.      Aisha mengalami sakit pada perutnya dan seketika itu pula sakit yang dialami Maria kambuh pada menit 01:54:04-01:54:27
2.3.2.3  Perubahan bervariasi
1.      Dalam novel (h.44), ketika di metro terdapat tiga orang amerika, kemudian ketika Fahri menolong ia dapat berbicara baik-baik kepada orang Mesir. Namun dalam filmnya menit 12:57-14:56, hanya terdapat dua orang amerika dan Fahri dipukul oleh orang Mesir tersebut.
2.      Pada novel (h.54) Alicia dan Aisha berterima kasih pada Fahri masih dalam metro. Namun pada film menit 15:22 Alicia dan Aisha berterima kasih pada Fahri setelah mereka turun dari metro.
3.      Noura memberikan surat melalui Ummu Aiman dan Syaikh Ahmad memberikan kepada Fahri (h.162), Fahri pun membacanya saat ia sedang dikamarnya (h.164). Namun pada filmnya Noura memberikan surat kepada Fahri secara langsung dan Fahri membacanya ketika dijalan menuju ke flatnya, pada menit 28:35-29:43
4.      Pada novel paman dan bibi Nurul datang untuk menikah dengan Nurul sebelum Fahri dan Aisha menikah (h.230), sedangkan pada film paman dan bibi Nurul datang setelah Fahri menikah dengan Aisha pada menit 56:11
5.      Pada novel, Maria jatuh sakit dan mengalami koma (h.341) namun dalam filmnya Maria ditabrak oleh orang suruhan Bahadur pada menit 55:00
6.      Sewaktu Fahri ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara, dia dipenjarakan bersama orang-orang terhormat yang bernama Profesor Abdur Rauf Manshour, Ismail, Hamada, Haj Rashed and juga Marwan (h.309). Namun dalam film, Fahri dipenjarakan bersama seorang banduan yang aneh pada menit 01:00:57
7.      Dalam novel Syaikh Utsman masih hidup dan mengunjungi Fahri di penjara (h.341), namun dalam film Syaikh Utsman telah meninggal pada menit 01:03:46
8.      Dalam novel, Fahri yang membaca buku diary Maria (h.369), namun dalam filmnya Fahri tidak membaca buku diary Maria tetapi Aisha yang membaca buku diary Maria, pada menit 01:22:28
9.      Dalam novel, Maria bermimpi tentang surga dan ingin diajarkan wudhu dan kalimat syahadat (h.402), namun dalam filmnya ia ingin diajarkan sholat pada menit 02:00:22




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan

Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy adalah novel yang menarik dari segi isi dan konflik yang terdapat didalamnya. Hanung Bramantyo kemudian mengadaptasikan novel ayat-ayat cinta ke dalam layar putih disebut ekranisasi. Namun dalam pengadaptasiannya Hanung melakukan beberapa proses yaitu proses penciutan, proses penambahan dan proses perubahan bervariasi. Jika dalam sebuah novel disebut babak, maka dalam film disebut sequence.
Untuk mengetahui sequence, maka terlebih dahulu melakukan analisis unsur intrinsik yang terdapat di novel dan di film. Dalam penganalisisan judul yang terkait yaitu konflik batin empat tokoh wanita dalam ayat-ayat cinta menggunakan pendekatan psikologi sastra. Psikologi sastra merupakan analisis yang terdapat pada karya sastra dari sudut kejiwaan karya sastra tersebut, didalamnya terdapat tokoh-tokoh yang mempunyai karakteristik yang khas.

Daftar Pustaka

Darmono, Sapardi Djoko. Sastra Bandingan. Ciputat: Editum. 2009
Endaswara, Suwardi. Metodologi Penelitian Sastra Bandingan. Jakarta: Bukupop. 2011
Eneste, Pamusuk. Novel dan Film. NTT: Nusa Indah. 1991
El Shirazy, Habiburrahman. Ayat-Ayat Cinta. Jakarta: Republika. 2008
Hanung Bramantyo, Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi. Ayat-Ayat Cinta. Indonesia: MD Pictures. 28 Februari 2008
Kompas 21 Desember 2010. Biografi Hanung Bramantyo. diakses dari Sinematek Indonesia Pusat Perfilman H.Umar Ismail
M. Boggs, Joseph diterjemahkan Drs. Asrul Sani. Cara Menilai Sebuah Film. Jakarta: Yayasan Citra. 1986
Oeniwahyuni, Psikologi Sastra, diakses dari http://oeniwahyuni.wordpress.com/2011/12/04/psikologi-sastra/ pada tanggal 25 Desember 2012
Wellek & Austin Warren, Rene. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 1993











[1] Rene Wellek & Austin Warren, Teori Kesusastraan, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1993),  h. 3
[2] Suwardi Endaswara, Metodologi Penelitian Sastra Bandingan, (Jakarta: Bukupop, 2011),  h.2
[3] Joseph M. Boggs diterjemahkan Drs. Asrul Sani. Cara Menilai Sebuah Film, (Jakarta: Yayasan Citra, 1986), h. 26
[4] Sapardi Djoko Darmono, Sastra Bandingan, (Ciputat: Editum, 2009), h.128
[5] Pamusuk Eneste, Novel dan Film, (NTT: Nusa Indah, 1991), h .60
[6] Oeniwahyuni, Psikologi Sastra, diakses dari http://oeniwahyuni.wordpress.com/2011/12/04/psikologi-sastra/ pada tanggal 25 Desember 2012
[7] Habiburrahman El Shirazy, Ayat-Ayat Cinta, (Jakarta: Republika, 2008), h.407-410
[8] Biografi Hanung Bramantyo, Kompas 21 Desember 2010, h. 33, diakses dari Sinematek Indonesia Pusat Perfilman H.Umar Ismail pada tanggal 11 Desember 2012

2 komentar: