Jumat, 09 November 2012

Epigon, Pengaruh dan Plagiat


A.    Epigon
Epigon secara etimologi epigon berasal dari bahasa latin epigonos atau epigignestai, yang berarti ‘terlahir kemudian’[1]. Dalam dunia penulisan, orang yang meniru gaya tulisan seorang penulis lazim disebut epigon.
Menurut KBBI (kamus besar bahasa Indonesia) epigon adalah orang yang tidak memiliki gagasan baru dan hanya mengikuti jejak pemikir atau seniman yang mendahuluinya.
Epigon memang telah mewarnai dan ikut ambil bagian dalam proses kreatif penciptaan sebuah karya dari para penulis. Bagi seorang penulis menjadi epigon adalah sebuah proses belajar. Mereka butuh observasi, referensi, inspirasi dan logika ataupun imajinasi untuk menghasilkan karya baru.
Damono (2005: 18-20) dalam Suwardi memberikan rambu-rambu bahwa sastra bandingan perlu mencermati tiga hal, yaitu Asli, Pinjaman, dan Tradisi. Ketiganya jelas terkait dengan epigonistik. Karya asli, biasanya disebut orisinal, yang sering menjadi sumber epigon. Istilah pinjaman sama halnya dengan serapan. Sastra serapan sah-sah saja, sebab hubungan estetis tidak mungkin dibendung oleh siapa pun. Tradisi, yang paling bagus, memang pengarang tidak sekedar epigon, melainkan membangun tradisi baru. Namun demikian, tradisi baru juga sering tidak mudah dilakukan, sebab pada dasarnya pengarang senantiasa tidak pernah nihil dari karya orang lain.
Ahli sastra bandinganlah yang akan mendudukan seberapa tingkat epigon, plagiat, dan terjemahan. Baik epigon, plagiat, dan terjemahan sebenarnya menjadi  bagian bandingan interteks dan interteks yang tak akan pernah ada habisnya. Meniru sebenarnya sah-sah saja, biarpun ada yang menganggap sebuah pencurian. Tak jarang jika kita sedang berada di toko buku, membolak-balikan novel, membuka cerpen masa lalu, atau mencermati dongeng, kita mendapati banyak sekali buku yang serupa atau mirip dalam tampilannya, dalam tema tulisannya, atau yang lainnya dengan buku-buku yang sudah menjadi phenomena dan best seller. Contoh setelah buku tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, atau novel  popular karya Habiburrahman El-Shirazy, ayat-ayat cinta dan ketika cinta bertasbih,  bermunculan buku atau novel serupa baik dalam tema, isi cerita, maupun hanya sekedar tamplan cover-nya saja.
Sesuai kodrat manusia yang sejak kecil bahkan masih bayi memang sudah diajarkan aktivtas untuk meniru, hingga besar pun cenderung untuk meniru dari orang-orang yang dianggap hebat atau berhasil dalam bidangnya. Sebenarnya pun menjadi atau melakukan epigon itu dapat dianggap sah-sah saja jika orang yang melakukan epigon itu tidak sekedar meniru tetapi melakukannnya sebagai alat untuk menemukan jati diri atau ciri khasnya, serta selanjutnya membuat kreativitas dalam karyanya dan ini disebut epigon kreatif. Namun jika epigon dilakukan dengan cara menjiplak karya orang lain atau yang lazim disebut plagiat, maka inilah epigon yang tidak diharapkan, bahkan yang seperti ini dianggap sebagai pencuri orang lain dan termasuk kategori melanggar hak cipta.[2]
Kecenderungan karya sastra yang menjadi epigon karya sastra lain dapat dipahami dengan menggunakan pendekatan generik dan genetik. Melalui pendekatan generik dapat terungkap hubungan karya satu dengan yang lain. Hubungan antar genre, sering terjadi  lintas genre, sehingga tidak begitu jelas ketika pengarang cerpen mengepigon sebuah pusi. Berbeda ketika pusi mengepigon puisi, tentu akan segera diketahui. Hubungan generik akan selalu ada, sejauh pengarang tidak menutup diri. Pengarang dapat dipastikan akan membaca karya lain dari genre yang berbeda.  Itulah sebabnya sastra bandingan akan memahami penyusupan genre satu ke genre lain. Aspek kesengajaan atau ketaksengajaan tidak perlu diperdebatkan dalam konteks epigon, plagiat, dan terjemahan. Epgion menandai bahwa pengarang berikutnya sedang takluk, sedang tergiur, dan bahkan jatuh cinta pada karya sebelumnya. 
B.     Pengaruh
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yg ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang.
Menurut mahayana (1995 : 213) adanya kesamaan tema, gaya, maupun bentuk pada dua karya sastra, mungkin hanya akibat pegaruh karya sastra yang satu terhadap karya yang lain. Kemunculannya pun bisa pada saat yang bersamaan atau dengan kurun waktu yang berbeda. Dengan demikian, bisa jadi terjadi kemiripan antara karya sastra disuatu negara dan karya sastra di negara lain[3].
Istilah pengaruh harus dartikan secara luas, bukan sekedar proses peniruan yang menimbulkan karya sastra baru berdasarkan karya sastra yang sudah ada. Ada pendapat yang mengatakan bahwa seandainya karya sastra yang mempengaruhi itu tidak pernah ada  tidak akan pernah bisa membuktikan hal itu. Konsep pengaruh mencakup spektrum yang luas, mulai dari pinjaman sampai ke tradisi. Hal tersebut membuka peluang bagi penelitian sastra bandingan.
Pengaruh bisa terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Tidak jelas apakah yang menimbulkan pengaruh itu sastrawan atau karyanya, dan juga tidak bisa begitu saja diketahui apakah pengaruh itu terjadi secara langsung atau lewat perantara; penelitilah yang harus menentukan hal itu. Dibagian lain bukunya, Jost (1974:37) menyatakan bahwa penelitian bisa dilaksanakan dengan metode genetik atau poligenetik, yang menekankan pentingnya sebab akibat maupun tidak. Betapapun pentingnya studi pengaruh, hasilnya tidak selalu menjelaskan bagaimana proses penyebaran suatu teknik atau gagasn, sebab bagaimana pun suatu masyarakat harus sudah siap menerima sesuatu dari luar; jika tidak penularan tersebut tidak pernah terjadi. Dengan demikian sebenarnya tidak bisa dikatakan bahwa seandainya tidak ada sumber pengaruh, tidak akan bisa dipastikan bahwa sastra tertentu tidak menghasilkan sesuatu.[4]
C.    Plagiat
Plagiat adalah kerja sastrawan yang meniru karya orang lain. Plagiat sama halnya dengan pencurian. Namun menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia plagiat adalah pengambilan karangan (pendapat dsb) orang lain dan menjadikannya seolah-olah karangan (pendapat dsb) sendiri, misal menerbitkan karya tulis orang lain atas nama dirinya sendiri; jiplakan.
Plagiattisme tidak hanya terjadi dalam lingkungan sastra suatu daerah, tetapi juga dalam hubungan sastra daerah dengan daerah lain, dengan sastra nasional, bahkan dengan sastra negara lain. Produk kesusastraan antar wilayah dan antar negara sering memiliki pertalian dan kemiripan cerita. Fenomena ini menarik sebab tumbuh dan berkembangnya karya sastra itu dipisahkan oleh letak geografis yang berjauhan serta latar budaya masyarakat yang sangat berbeda.[5]
                                                    
Kasus yang berkaitan dengan epigon, plagiat dan pengaruh
Hb Jassin, kritikus sastra Indonesia, mengungkapkan prinsip kerja sastra bandingan ketika membela Hamka dan Chairil Anwar dari tuduhan sebagai plagiat. Pengarang Hamka dengan novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck-nya dituduh sebagai plagiat. Novel ini memiliki kemiripan dengan karya seorang pengarang mesir Mustafa Luthfi Al Manfaluthi. Hal yang sama juga dilakukan Jassin ketika Chairil Anwar dituduh menjiplak karya-karya penyair mancanegara.
Ketika Chairil Anwar masih hidup timbul kehebohan dalam majalah mimbar Indonesia bahwa Chairil melakukan plagiat. Diberitakan bahwa sajaknya yang berjudul “Datang Dara Hilang Dara” merupakan hasil palgiat dari sajak Hsu Chih Mo yang berjudul “A song of the sea”. Tidak hanya itu saja yang ia contoh, tetapi juga banyak sajak-sajak lain seperti “karawang-Bekasi” yang diambil dari sajak Archibald MacLeish yang berjudul “The young dead soldiers”. Demikian juga dengan sajaknya “kepada peminta-minta”, “Rumahku”, dan lain-lain. Peristiwa itu sangat mengejutkan dunia sastra Indonesia sehingga timbul polemik antara yang menyerang dan mempertahankan Chairil.
Pembelaan kawan-kawan terdekat Chairil seperti H.B. Jassin, Asrul Sani, dan yang lainnya tidak dapat menutupi kenyataan perbuatan plagiat yang dilakukan oleh Chairil. S.M. Ardan dalam salah satu tulisannya mengatakan bahwa lebih baik menyelidiki dan di akui plagiat-plagiat yang dilakukan oleh Chairil itu, bukan di bantah atau di bela. Namun orang-orang pun tidak dapat membantah peranan dan jasa besar Chairil dalam sejarah sastra Indonesia.[6]
Setelah mengkaji melalui sastra bandingan, Jassin menegaskan bahwa Hamka bukan plagiat, melainkan mengadaptasi karya pengarang Mesir tersebut. Mengenai Chairil Anwar, Jassin menilai bahwa penyai angkatan 45 itu hanya menyadur dan menerjemahkan karya-karya sastra asing yang bersangkutan.
Salah satu contoh yakni dalam puisinya Chairil Anwar yang berjudul “Karawang bekasi” puisi ini dianggap menjiplak karya Archibald Macleish yang berjudul “The Young Dead Soldier”. Chairil Anwar sebenarnya telah menciptakan sajak baru sehingga terpengaruh dengan larik sajak yang dibuat Archibald Macleish. Sajak Macleish memuat sajak yang lebih umum tentang prajurit dengan nilai-nilai yang bisa diterima dimana saja prajurit yang mati pada sajak itu tidak terikat dengan waktu dan tempat, mereka bukan prajurit yang merebut kemerdekaan dari bangsa lain. Sebaliknya, sajak Chairil Anwar memuat sajak yang lebih khusus yang terikat antara waktu dan tempat, yakni pada waktu merebut kemerdekaan Indonesia.
Dengan demikian sajak ini tidak mengandung nilai-nilai dengan mudah bisa diterima dimana dan kapan saja, ia terikat pada sejarah. Nada yang tersirat dalam sajak Chairil Anwar itu pun jelas berbeda The Young Dead Soldier. Krawang bekasi menggambarkan suasana mengobarkan semangat perjuangan, sedangkan sajak The Young Dead Soldier memimpikan persamaian[7].
Berikut ini merupakan teks puisi karya Chairil Anwar dan Archibald Macleish.
KARAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.


Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bitjara padamu dalam hening di malam sepi
Djika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak


Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah tjoba apa yang kami bisa
Tapi ker
dja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

Chairil Anwar (1948)

THE YOUNG DEAD SOLDIERS
The young dead soliders do not speak
Nevertheless they are heard in the still houses:
(who has not heard them?)
They have a silence that speaks for them at night
and when the clock counts.
They say,
We were young. We have died. Remember us.

They say,
we have done what we could
but until it is finished it is not done.

They say, we have given our lives
but until it is finished no one can know what our lives gave.

They say,
our deaths are not ours: they are yours
they will mean what you make them.

They say,
whether our lives and our deaths were for peace and a new hope
or for nothing
We cannot say: it is you who must say this.

They say, we leave you our deaths:
give them their meaning:
give them an end to the war and a true peace:
give them a victory that ends the war and a peace afterwards:
give them their meaning.
We were young, they say.
We have died.
Remember us.
Archibald MacLeish (1941)
Berikut beberapa bait yang mirip pada kedua karya sastra tersebut :
¢  (tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami?) (who has not heard them)
¢  (kami bicara padamu dalam hening di malam sepi jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak) (they have a silence that speaks for them at night and when the clock count)
¢  (kami mati muda. Yang ditinggal tulang diliputi debu. Kenang, kenanglah kami) (they say, We were young. We have died. Remember us).
¢  (Kami sudah coba apa yang kami bisa) (They say, we have done what we could but until it is finished it is not done).


menurut anda ini apa?? Plagiat, Pengaruh atau Epigon??










[1] Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitiaan Sastra Bandingan, (Jakarta: Bukupop, 2011), h.210-211
[2] Ibid, h.211-213
[3] http://www.jedelasastra.com diunduh pada tanggal 06 November 2012.
[4] Sapardi Djoko Damono, Sastra Bandingan, (Ciputat:Editum, 2009), h.10-11
[5] Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitiaan Sastra Bandingan, (Jakarta: Bukupop, 2011), h.206 -207
[6]M Nahdiansyah Abdi. 2011. Plagiatisme dan Kepengarangan dalam http://sosok.kompasiana.com/2011/05/26/chairil-anwar-dan-sejarah-sastra-indonesia/ diakses pada tanggal 19 Oktober 2012
[7] Sapardi Djoko Damono. Sastra Bandingan (Editum : Ciputat. 2009) hal. 104-105

3 komentar:

  1. Hari baik untuk semua warga negara Indonesia dan juga seluruh ASIA, nama saya adalah Ibu Nurliana Novi, saya ingin membagikan kesaksian hidup saya di sini mengenai platform ini untuk semua warga negara Indonesia dan seluruh asia untuk berhati-hati dengan pemberi pinjaman di internet, Allah telah mendukung saya melalui ibu Nyonya Elina yang baik

     Setelah beberapa lama mencoba mendapatkan pinjaman dari lembaga keuangan, dan terus menolak, saya memutuskan untuk mendaftar melalui pinjaman online tapi saya menipu dan kehilangan Rp 15.000.000 dengan pinjaman pinjaman yang berbeda.

    Saya menjadi sangat putus asa dalam mendapatkan pinjaman, jadi saya berdiskusi dengan seorang teman saya yang kemudian mengenalkan saya kepada Nyonya Elina, pemilik perusahaan pinjaman global, jadi teman saya meminta saya untuk melamar dari Ibu Elina, jadi saya mengumpulkan keberanian dan menghubungi Mrs. Elina.

    Saya mengajukan pinjaman sebesar Rp500.000.000 dengan tingkat bunga 2%, sehingga pinjaman tersebut disetujui dengan mudah tanpa tekanan dan semua pengaturan dilakukan atas pengalihan kredit, karena tidak memerlukan jaminan dan jaminan pinjaman. Transfer saya hanya diberitahu untuk mendapatkan sertifikat perjanjian lisensi aplikasi Mereka untuk mentransfer kredit saya dan dalam waktu kurang dari dua jam uang pinjaman telah dimasukkan ke rekening bank saya.

    Saya pikir itu adalah lelucon sampai saya menerima telepon dari bank saya sehingga akun saya dikreditkan sebesar Rp500.000.000. Saya sangat senang bahwa ALLAH akhirnya menjawab doaku dengan memesan pinjaman saya dengan pinjaman awal saya, yang telah memberi saya keinginan hati saya.


    Mereka juga memiliki tim ahli yang akan memberi tahu Anda tentang jenis bisnis yang ingin Anda investasikan dan bagaimana menginvestasikan uang Anda, sehingga Anda tidak akan pernah bangkrut lagi dalam hidup Anda.


    Semoga ALLAH memberkati Ibu Elina karena telah membuat hidup saya mudah, jadi saya menyarankan siapapun yang tertarik untuk mendapatkan pinjaman agar dapat menghubungi Ibu Elina melalui email: elinajohnson22@gmail.com untuk pinjaman Anda

    Ada perusahaan palsu lain yang online menggunakan kesaksian saya untuk mencapai keinginan egois mereka, sayalah satu-satunya dengan kesaksian sejati ini, ketika Anda menghubungi kemudian meminta bukti dari pembayaran kepada ibu tersebut, mohon berhati-hati terhadap orang-orang ini baik-baik saja.

    Akhirnya saya ingin mengucapkan terima kasih untuk meluangkan waktu untuk membaca kesaksian tentang hidup sejati saya tentang kesuksesan saya dan saya berdoa kepada Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya dalam hidup Anda.
    Satu lagi nama saya adalah mrs nurliana novi, Anda bisa menghubungi saya untuk informasi lebih lanjut melalui email saya: nurliananovi96@gmail.com

    BalasHapus